Alasan Mengapa banyak orang membuat startup?
Hal ini berkaitan dengan perkembangan zaman. Masyarakat semakin berkembang, begitu pula dengan masalah-masalah yang dihadapi. Dahulu tidak pernah terlintas dalam benak saya, akan ada hari di mana wartel akan tutup karena semua orang memiliki ponsel. Taksi-taksi digantikan oleh Uber. Uang cash digantikan dengan dompet digital. Hal yang dulu terasa sepele dan mewah kini menjadi suatu kemudahan bahkan bisa jadi sebuah kebutuhan.
Tanpa disadari, sebenarnya perusahaan-perusahaan startup tengah mempraktikkan kapitalisme. Kapitalisme merupakan suatu fenomena yang terjadi setelah adanya kebebasan untuk memiliki suatu kekayaan sendiri (private ownership). Ketika seseorang memiliki modal yang cukup dan aset pribadi untuk membangun perusahaan, ia dapat mengatur sendiri kebutuhan dan pengeluaran perusahaan itu untuk meraih untung.
Semakin besar modal yang dimiliki, maka perusahaan tersebut berpotensi dapat meraih lebih banyak pasar, dan bahkan dapat mendominasi pasar itu sendiri. Hal ini baik karena di satu sisi memanfaatkan sumber daya yang dipunya untuk meraih keuntungan yang lebih besar.
Namun di sisi lain, hal tersebut juga memicu adanya eksploitasi sumber daya. Manusia merupakan makhluk yang secara alami selalu ingin berkembang. Dalam mengembangkan suatu perusahaan, seringkali seseorang tidak akan pernah memperkirakan ujung atau akhir dari perjalanan. Dahulu ada peribahasa gapai mimpimu setinggi langit. Tetapi apabila langit belum juga digapai, maka akan menggunakan segala upaya untuk menggapainya.
Sebut saja Gojek, perusahaan startup ini didirikan awalnya sebagai ‘usaha sosial’ untuk memberdayakan orang-orang yang membutuhkan uang lebih sewaktu-waktu apabila ia memiliki kendaraan sepada motor atau mobil. Dahulu, driver Gojek terdiri dari bermacam-macam orang yang ‘kebetulan’ sedang senggang, dalam perjalanan pulang, dan lain sebagainya. Gojek menggunakan sistem tertentu yang dapat melacak lokasi pengguna dan lokasi driver terdekat.
Tetapi tidak disangka, seiring berkembangnya waktu orang-orang melihat potensi gojek sebagai ladang pekerjaan sehingga memutuskan untuk bekerja full-time sebagai driver. Dahulu saya menganggap driver gojek adalah orang asing yang bersedia saya tumpangi kendaraannya. Tetapi kini sudah tidak berbeda dengan ojek yang menjadi mata pencaharian utama.
Driver ojek yang dahulu menerima pesanan ‘ketika ada waktu luang saja’, kini berganti dengan driver ojek yang bersaing demi mendapatkan pesanan dan memperoleh rating tinggi. Bahkan rela menempuh cuaca apa pun dan di jam berapa pun. Semuanya demi meraih lebih banyak ‘untung’.
Tetapi apakah benar begitu? Apakah untung yang didapat sepadan dengan pekerjaan yang dilakukan? Apakah ternyata kita sedang dieksploitasi dengan janji untung yang tidak seberapa, padahal lebih menguntungkan pihak pemilik modal, yaitu perusahaan Gojek itu sendiri?
Fenomena ini kiranya dapat menjadi evaluasi bagi kita semua yang sedang bekerja keras, agar jangan sampai kita menjadi sumber daya yang tereksploitasi melainkan menjadi individu yang cerdas dalam mengarungi era ini. Membangun perusahaan startup mungkin terdengar kekinian dan menjanjikan, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa setiap usaha didirikan atas suatu tujuan, untuk penghidupan dan yang paling utama: untuk membantu mengentaskan permasalahan di masyarakat.

