{"id":1762,"date":"2021-11-27T10:28:16","date_gmt":"2021-11-27T03:28:16","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=1762"},"modified":"2021-11-27T10:28:16","modified_gmt":"2021-11-27T03:28:16","slug":"faktor-faktor-yang-mempengaruhi-akhlak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2021\/11\/27\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-akhlak\/","title":{"rendered":"Faktor\u2013Faktor yang Mempengaruhi Akhlak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Setiap orang ingin agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat, dan sikap mental yang kuat dan akhlak yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan dengan melalui pendidikan, untuk itu perlu dicari jalan yang dapat membawa kepada terjaminnya akhlak perilaku ihsan sehingga ia mampu dan mau berakhlak sesuai dengan niali\u2013nilai moral. Nilai\u2013nilai moral akan dapat dipatuhi oleh seorang dengan kesadaran tanpa adanya paksaan kalau hal itu datng dari dirinya sendiri. Dengan demikian pendidikan agama harus diberikan secara terus menerus baik faktor keluarga, faktor kepribadian, pendidikan formal, pendidikan nonformal atau lingkungan masyarakat.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Faktor keluarga<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pembinaan akhlak anak, faktor orang tua sangat menentukan, karena akan masuk ke dalam pribadi anak bersamaan dengan unsur\u2013unsur pribadi yang didapatnya melalui pengalaman sejak kecil. Pendidikan keluarga sebagai orang tua mempunyai tanggungjawab dalam mendidik anak\u2013anaknya karena dalam keluarga mempunyai waktu banyak untuk membimbing, mengarahkan anak\u2013anaknya agar mempunyai perilaku islami. Kebahagiaan orang tua atas hadirnya seorang anak yang dikaruniakan kepadanya, akan semakin terasa karena tumbuhnya harapan bahwa garis keturunannya akan berlangsung terus. Satu hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dari para orang tua muslim ialah tentang kesalehan anak\u2013anak mereka.Ada beberapa hal yang perlu direalisasikan oleh orang tua yakni aspek pendidikan akhlak karimah. Pendidikan akhlak sangat penting dalam keluarga, karena dengan jalan membiasakan dan melatih pada hal \u2013 hal yang baik, menghormati kepada orang tua, bertingkah laku sopan yang baik dalam berperilaku keseharian maupun dalam bertutur kata. Pendidikan akhlak tidak hanya secara teoritik namun disertai contohnya untuk dihayati maknanya, seperti kesusahan ibu yang mengandungnya, kemudian dihayati apa yang ada dibalik yang nampak tersebut, kemudian direfleksikan dalam kehidupan kejiwaannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menerima pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung, disamping itu keluarga merupakan unit kehidupan bersama manusia terkecil dan alamiah, artinya secara alamiah dialami setiap kehidupan manusia, karenanya keluarga merupakan jembatan meniti bagi generasi, oleh karena itu orang tua berperan penting sebagai pendidik, yakni memikul pertanggungjawaban terhadap pendidikan anak. Karena pendidika itulah yang akan membentuk manusia di masa depan.<br \/>\nKeluarga merupakan wadah pertama dan utama, peletak dasar perkembangan anak. Dari keluarga pertama kali anak mengenal agama dari kedua orang tua, bahkan pendidikan anak sesungguhnya telah dimulai sejak persiapan pembentukan keluarga. Setelah mendapatkan pendidikan akhlak dalam keluarga secara tidak langsung nantinya akan berkembang di lingkungan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oleh karena itu maka kebiasaan\u2013kebiasaan dalam keluarga harus dalam pengawasan, karena akan sangat berpengaruh pada diri anak, kebiasaan yang buruk dari keluarga terutama dari kedua orang tua akan cepat ditiru oleh anak\u2013anaknya, menjadi kebiasaan anak yang buruk. Dengan demikian juga kebiasaan yang baik akan menjadi kebiasaan anak yang baik. Peran orang tua dan anggota keluarga sangat penting bagi pendidikan akhlak dan selektivitas bergaul.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Faktor kepribadian<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan menggunakan kaidah fikih mengemukakan bahwa diri sendiri termasuk orang yang dibebani tanggung jawab pendidikan menurut Islam, apabila manusia telah mencapai tingkat mukallaf maka ia menjadi bertanggung jawab sendiri terhadap mempelajari dan mengamalkan ajaran agama Islam. Kalau ditarik dalam istilah pendidikan Islam, orang mukallaf adalah orang yang sudah dewasa sehingga sudah semestinya ia bertanggungjawab terhadap apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan keluarga atau semua anggota keluarga yang mendidik pertama kali. Perkembangan agama pada seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa\u2013masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun. Kemampuan seseorang dalam memahami masalah\u2013masalah agama atau ajaran- ajaran agama, hal ini sangat dipengaruhi oleh intelejensi pada orang itu sendiri. Orang pandai akan mudah memahami ajaran\u2013ajaran Islam.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Faktor Lingkungan (Masyarakat)<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lembaga non formal akan membawa seseorang berperilaku yang lebih baik karena di dalamnya akan memberikan pengarahan\u2013pengarahan terhadap norma\u2013norma yang baik dan buruk. Misalnya pengajian, ceramah yang barang tentu akan memberikan pengarahan yang baik, tak ada seorang mubaligh yang mengajak hadirin untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.<br \/>\nDengan demikian pendidikan yang bersifat non formal yang terfokus pada agama ternyata akan mempengaruhi pembentukan akhlak pada diri seseorang. Maka tepat sekali dikatakan bahwa nilai\u2013nilai dan kebiasaan masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai\u2013nilai dan kebiasaan masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai\u2013nilai Islam apalagi yang membawa maslahat dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam menentukan kebijaksanaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kehidupan manusia tidak lepas dari nilai itu selanjutnya perlu diinstitusikan. Institusi nilai yang terbaik adalah melalui upaya interaksi edukatif, pandangan Freeman Butt dalam bukunya Cultural History of Western Education, menyatakan bahwa hakekat interaksi edukatif adalah proses tranformasi dan internalisasi nilai, proses pembiasaan terhadap nilai, proses rekonstruksi nilai, serta penyesuaian terhadap nilai. Akhlak yang baik dapat pula diperoleh dengan memperhatikan orang \u2013 orang baik dan bergaul dengan mereka, secara alamiah manusia itu meniru, tabiat seseorang tanpa dasar bisa mendapat kebaikan dan keburukan dari tabiat orang lain. Interaksi edukatif antara individu dengan individu lainnya yang berdasarkan nilai-nilai Islami agar dalam masyarakat itu tercipta masyarakat yang berakhlakul karimah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lingkungan masyarakat yakni lingkungan yang selalu mengadakan hubungan dengan cara bersama orang lain. Oleh karena itu lingkungan masyarakat juga dapat membentuk akhlak seseorang, di dalamnya orang akan menatap beberapa permasalahan yang dapat mempengaruhi bagi perkembangan baik dalam hal\u2013hal yang positif maupun negatif dalam membentuk akhlak pada diri seseorang. Oleh karena itu lingkungan yang berdampak negative tersebut harus diatur, supaya interaksi edukatif dapat berlangsung dengan sebaik\u2013baiknya. Bentuk\u2013bentuk organisasi lain di dalam masyarakat merupakan persekutuan hidup yang memanifestasikan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari\u2013hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari penjelasan di atas di jelaskan bahwa manusia hidup membutuhkan orang lain. Maksudnya bahwa tak seorangpun manusia yang bisa hidup sendiri. Jika dikaitkan lingkungan sekolah, hal ini sama bahwa mereka dalam hidup saling membutuhkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Misalkan ketika ia melihat temannya yang rajin melakukan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah maka secara tidak langsung dia akan terpengaruh juga dengan kegiatan temannya.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama. Lingkungan semacam ini ada kalanya berkeber tan terhadap pendidikan agama, dan ada kalanya pula agar sedikit tahu tentang hal itu.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Lingkungan yang berpegang pada tradisi agama, tetapi tanpa keinsafan batin, biasanya lingkungan demikian menghasilkan seseorang beragama yang secara tradisional tanpa kritik atau beragama secara kebetulan. <\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: arial, helvetica, sans-serif;\">Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam kehidupan yang beragama.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lingkungan ini memberikan motivasi atau dorongan yang kuat kepada seseorang untuk memeluk dan mengikuti pendidikan agama yang ada, apabila lingkungan ini ditunjang oleh anggota\u2013anggota masyarakat yang baik dan kesepakatan memadai, maka kemungkinan besar hasilnya pun paling baik untuk mewujudkan akhlak pada diri orang yang ada disekitarnya. Masyarakat di sini juga ikut mempengaruhi akhlak atau perilaku seseorang yang ada disekitarnya yang dalam kehidupan sehari\u2013harinya ia tak mungkin lepas dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal. Lingkungan pergaulan merupakan alat pendidikan, meskipun keadaan maupun peristiwa apapun yang terjadi tidak bisa dirancang, sehingga keadaan tersebut mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kepribadian seorang baik berdampak baik maupun akan berdampak jelek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lingkungan pergaulan yang baik akan mendukung pula perkembangan pribadi seseorang yang disekitarnya. Namun pergaulan yang jelekpun sangat mendukung kepribadian yang buruk, bahkan bisa merusak akidah\u2013akidah yang telah tertanam pada diri sejak kecil, jika ia tidak pandai mengawasi dan menyaring (memfilter) dari segala pergaulan yang terjadi di masyarakat. Dalam kegiatan masyarakat cenderung bersifat pengajaran orang dewasa, di lingkungan agama Islam bentuk jalur ini yang kegiatannya diprogramkan dalam instansi\u2013instansi sekolah. Dasar\u2013dasar pengembangan intelektual dalam Islam harus bersumber dari Al\u2013Qur\u2019an dan Hadist.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nJadi disini harus berhati\u2013hati terhadap berbagai macam faktor yang bisa mempengaruhi akhlak yang tidak baik. Apabila nilai\u2013nilai agama banyak masuk ke dalam pembentukan kepribadian seseorang, maka tingkah laku oang tersebut akan banyak diarahkan dan dikendalikan oleh nilai\u2013nilai agama. Oleh karena itu sebagai orang dewasa hendaknya melakukan pengawasan yang ketat dalam hal berkaitan dengan perilaku dalam lingkungan masyarakat, karena sekarang banyak remaja sudah sangat sulit untuk membiarkan dalam hal bergaul bebas tanpa disertai dengan pengawasan orang tua akan mengakibatkan celaka di kemudian hari yang tak bisa ditebus dengan apapun.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Faktor visual dan audio visual<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak hanya pengaruh lingkungan tapi masih banyak lagi misalnya TV, majalah dan tayangan \u2013tayangan lain yang bisa memberikan banyak pengaruh pada kepribadian anak dan tingkah laku anak. Misalkan kita melihat tayangan\u2013tayangan barat atau film\u2013film porno maka kalau anak\u2013anak didik kita tidak dibekali dengan ilmu agama maka ia akan terjerumus ke dalamnya.<br \/>\nDisinilah pentingnya peranan penanaman akhlak yang telah ditanamkan oleh kedua orang tuanya, yang berguna sebagai filter perkembangan yang telah terjadi pada zaman yang penuh globalisasi ini. Disinilah peranan pengamalan ibadah yang dilaksanakan oleh orang dewasa sebagai contoh terhadap orang\u2013orang yang ada di sekitar mereka, agar di lingkungan tersebut dalam pergaulannya mencerminkan akhlakul karimah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap orang ingin agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat, dan sikap mental yang kuat dan akhlak yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan dengan melalui pendidikan, untuk itu perlu dicari jalan yang dapat membawa kepada terjaminnya akhlak perilaku &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-1762","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1762","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1762"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1762\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1767,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1762\/revisions\/1767"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1762"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1762"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1762"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}