{"id":1810,"date":"2021-12-09T14:42:50","date_gmt":"2021-12-09T07:42:50","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=1810"},"modified":"2021-12-09T14:42:50","modified_gmt":"2021-12-09T07:42:50","slug":"kenali-gejala-penyebab-dan-pengobatannya-diabetes-tipe-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2021\/12\/09\/kenali-gejala-penyebab-dan-pengobatannya-diabetes-tipe-2\/","title":{"rendered":"Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya Diabetes Tipe 2"},"content":{"rendered":"<h4><strong>Apa itu diabetes tipe 2?<\/strong><\/h4>\n<p>Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) adalah kondisi yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal.<\/p>\n<p>tingginya kadar gula darah disebabkan oleh organ pankreas yang tidak dapat memproduksi hormon insulin secara optimal.<\/p>\n<p>Sementara itu, diabetes melitus tipe 2 biasanya terjadi karena sel-sel tubuh yang tak lagi peka terhadap insulin sehingga kesulitan mengubah glukosa menjadi energi.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, pankreas tetap memproduksi insulin pada orang yang memiliki DM tipe 2, tapi tubuh tak lagi sensitif terhadap keberadaannya.<\/p>\n<p>Jika gula darah dibiarkan terus tinggi, penderita berisiko mengalami komplikasi diabetes yang memengaruhi sistem saraf, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah, serta gusi dan gigi.<\/p>\n<h4>Tanda dan gejala diabetes tipe 2<\/h4>\n<p>Banyak orang yang malah tidak menyadari kalau dirinya terkena penyakit ini selama bertahun-tahun sekalipun gejalanya sudah muncul.<\/p>\n<p>Berikut ini ciri-ciri diabetes tipe 2 yang harus Anda waspadai.<\/p>\n<ol>\n<li>Buang air kecil terus-menerus.<\/li>\n<li>Sering haus dan minum lebih banyak.<\/li>\n<li>Cepat lapar meskipun sudah makan banyak.<\/li>\n<li>Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.<\/li>\n<li>Luka sulit sembuh dan mudah terkena infeksi.<\/li>\n<li>Masalah kulit, seperti gatal-gatal dan kulit kehitaman, terutama bagian lipatan ketiak, leher, dan selangkangan.<\/li>\n<li>Gangguan penglihatan seperti pandangan kabur.<\/li>\n<li>Tangan dan kaki sering sakit, kesemutan, dan kebas (mati rasa).<\/li>\n<li>Disfungsi seksual, seperti gangguan ereksi.<\/li>\n<\/ol>\n<h4>Penyebab dan faktor risiko diabetes tipe 2<\/h4>\n<p>Menurut studi American Diabetes Association, diabetes melitus tipe 2 umumnya disebabkan oleh resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel kebal terhadap hormon insulin.<\/p>\n<p>Ketika resistensi insulin terjadi, semakin banyak insulin yang Anda butuhkan agar kadar gula (glukosa) dalam tubuh bisa tetap stabil.<\/p>\n<p>Untuk mengimbangi kadar glukosa yang melimpah dalam aliran darah, sel-sel penghasil insulin di pankreas (sel beta) akan menghasilkan insulin yang lebih banyak.<\/p>\n<p>Hal ini bertujuan agar semakin banyak insulin yang dihasilkan, semakin banyak pula glukosa yang diproses menjadi energi.<\/p>\n<p>Sayangnya, kemampuan sel beta lama-lama akan menurun karena terus-menerus \u201cdipaksa\u201d menghasilkan insulin.<\/p>\n<p>Akibatnya, kadar gula darah yang tinggi semakin tidak terkendali sehingga menyebabkan diabetes.<\/p>\n<p>Umumnya, kondisi resistensi insulin ini bisa terjadi akibat beberapa hal, termasuk kelebihan berat badan (obesitas) dan faktor genetik.<\/p>\n<h4>Siapa yang lebih berisiko terkena diabetes tipe 2?<\/h4>\n<p>Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit diabetes melitus tipe 2 seperti berikut ini.<\/p>\n<p><strong>1. Riwayat keluarga<\/strong><br \/>\nRisiko mengalami penyakit ini semakin besar jika orang tua atau saudara kandung Anda juga memiliki diabetes tipe 2.<\/p>\n<p>Dibandingkan dengan diabetes tipe 1, diabetes melitus tipe 2 memiliki hubungan yang lebih kuat dengan riwayat dan keturunan keluarga.<\/p>\n<p><strong>2. Umur<\/strong><br \/>\nBertambahnya usia akan meningkatkan risiko Anda untuk terkena penyakit ini, khususnya setelah umur 45 tahun.<br \/>\nHal ini kemungkinan bisa terjadi akibat orang-orang pada usia ini yang cenderung kurang bergerak, kehilangan massa otot, dan mengalami pertambahan berat badan.<\/p>\n<p>Selain itu, proses penuaan dapat mengakibatkan penurunan fungsi sel beta pankreas sebagai penghasil hormon insulin untuk mengatur kadar gula darah.<\/p>\n<p><strong>3. Berat badan<\/strong><br \/>\nOrang yang kelebihan berat badan atau obesitas berisiko 80 kali lebih mungkin terkena penyakit ini ketimbang orang yang memiliki berat badan ideal.<\/p>\n<p><strong>4. Gaya hidup sedentari<\/strong><br \/>\nSedentari adalah pola perilaku minim aktivitas atau gerakan fisik. Anda mungkin lebih akrab mengenalnya dengan istilah mager alias malas gerak.<\/p>\n<p>Padahal, aktivitas fisik membantu Anda mengontrol berat badan, menggunakan glukosa sebagai energi, dan membuat sel-sel tubuh semakin sensitif terhadap insulin.<\/p>\n<p>Alhasil semakin pasif aktivitas Anda, maka semakin besar risiko untuk mengalami diabetes tipe 2.<\/p>\n<p><strong>5. Prediabetes<\/strong><br \/>\nPrediabetes adalah kondisi saat kadar gula darah Anda lebih tinggi dari normal, tetapi belum cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes.<\/p>\n<p>Kondisi ini umumnya tidak menimbulkan gejala yang berarti sehingga sulit untuk Anda deteksi.<\/p>\n<p><strong>6. Diabetes kehamilan<\/strong><br \/>\nIbu hamil yang pernah mengalami diabetes saat hamil (diabetes gestasional) dan sembuh memiliki kemungkinan tinggi terkena penyakit ini di kemudian hari.<\/p>\n<p><strong>7. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)<\/strong><br \/>\nPCOS erat kaitannya dengan resistensi insulin. Sejumlah kondisi medis lain juga berisiko menyebabkan penyakit ini, seperti pankreatitis, sindrom Cushing, dan glukagonoma.<\/p>\n<p><strong>8. Obat-obatan tertentu<\/strong><br \/>\nObat steroid, statin, diuretik, dan beta-blocker merupakan beberapa jenis obat yang dapat memengaruhi kadar gula dalam darah dan berisiko menyebabkan diabetes tipe 2.<\/p>\n<h4>Komplikasi dari diabetes tipe 2<\/h4>\n<p>Apabila penyakit ini tidak segera Anda tangani, ada sejumlah komplikasi diabetes tipe 2 yang mungkin terjadi seperti berikut ini.<\/p>\n<ol>\n<li>Penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit arteri koroner dengan nyeri dada (angina), penyakit jantung, stroke, penyempitan arteri (aterosklerosis), dan tekanan darah tinggi.<\/li>\n<li>Neuropati atau kerusakan saraf, pada pasien diabetes bisa memengaruhi bagian kaki dan saluran pencernaan.<\/li>\n<li>Retinopati diabetik atau kerusakan berat pada penglihatan, seperti katarak glaukoma dan kebutaan.<\/li>\n<li>Nefropati, kondisi terjadinya kerusakan atau penyakit ginjal yang bisa berujung pada gagal ginjal.<\/li>\n<li>Diabetic foot atau kaki diabetes, yang terjadi saat goresan dan luka kaki bisa menjadi infeksi serius, yang susah diobati dan dapat berakibat amputasi kaki.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain itu, diabetes tipe 2 dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di seluruh bagian tubuh, termasuk pembuluh darah arteri kaki.<\/p>\n<p>Apabila terjadi penyumbatan berat dan serius pada arteri kaki, hal ini dapat menyebabkan kematian jaringan pada kaki yang berujung pada gangren diabetik.<\/p>\n<h4>Diagnosis diabetes tipe 2<\/h4>\n<p>Dokter dapat mendiagnosis penyakit diabetes tipe 2 melalui pemeriksaan kadar gula darah. Hasil pemeriksaan gula darah nantinya akan dokter analisis di laboratorium.<\/p>\n<p>Meskipun cek gula darah dapat Anda lakukan secara mandiri di rumah, untuk hasil yang lebih akurat sebaiknya pemeriksaan dilakukan di rumah sakit atau klinik.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah sejumlah tes gula darah untuk mendiagnosis penyakit diabetes tipe 2.<\/p>\n<ol>\n<li>Tes gula darah sewaktu yaitu tes gula darah yang bisa dilakukan kapan saja.<\/li>\n<li>Tes gula darah puasa untuk pemeriksaan gula darah dilakukan setelah berpuasa 8 jam.<\/li>\n<li>Tes HbA1c yaitu tes pengukuran kadar gula darah rata-rata dalam 3 bulan terakhir.<\/li>\n<li>Tes toleransi glukosa adalah tes dilakukan setelah 2 jam mengonsumsi larutan gula yang mengandung 75 gram glukosa dan berpuasa 8 jam terlebih dahulu.<\/li>\n<li>Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan lainnya, seperti pemeriksaan insulin C-peptida untuk mengukur insulin, tekanan darah, serta kolesterol dan trigliserida.<\/li>\n<\/ol>\n<h4>Pengobatan diabetes tipe 2<\/h4>\n<p>Diet vegetarian untuk diabetes<\/p>\n<p>Sebelum melakukan berbagai pengobatan, Anda perlu memahami bahwa diabetes tipe 2 merupakan sebuah kondisi yang tidak bisa disembuhkan.<\/p>\n<p>Meski begitu, Anda masih bisa mengelolanya agar tetap hidup sehat dan normal. Pengobatan diabetes ini lebih berfokus pada perubahan pola hidup menjadi lebih sehat.<\/p>\n<p>Beberapa hal di bawah ini umumnya akan dokter anjurkan untuk mengendalikan gula darah pada pasien penyakit kencing manis tipe 2.<\/p>\n<p><strong>1. Diet sehat<\/strong><br \/>\nDokter akan memberikan rekomendasi pola makan sehat. Pasien diabetes perlu menghindari makanan tinggi gula dan memilih makanan dengan indeks glikemik rendah.<\/p>\n<p>Makanan dengan indeks glikemik rendah ini membutuhkan proses pemecahan karbohidrat menjadi glukosa lebih lama, sehingga tidak menimbulkan lonjakan kadar gula darah.<\/p>\n<p><strong>2. Olahraga<\/strong><br \/>\nSelain mengatur pola makan, pengobatan diabetes tipe 2 bisa Anda lakukan dengan memperbanyak aktivitas fisik, salah satunya dengan berolahraga rutin.<\/p>\n<p>Anda sebaiknya melakukan olahraga secara teratur, minimal 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu atau total 150 menit dalam seminggu.<\/p>\n<p><strong>3. Minum obat secara teratur<\/strong><br \/>\nJika kedua cara di atas tidak bekerja efektif dalam menjaga kadar gula darah, dokter biasanya akan meresepkan obat diabetes untuk membantu mengendalikan kadar gula darah.<\/p>\n<p>Dokter mungkin akan memberikan satu jenis obat saja atau kombinasi obat, sesuai dengan kondisi tubuh Anda.<\/p>\n<p><strong>4. Terapi insulin<\/strong><br \/>\nTidak semua penderita diabetes memerlukan terapi insulin. Dokter akan meminta Anda melakukan suntik insulin jika obat diabetes tidak memberikan perbaikan yang signifikan.<\/p>\n<p>Terapi insulin bisa hanya dokter berikan dalam jangka pendek, terutama ketika diabetesi sedang mengalami stres.<\/p>\n<h4>Pengobatan di rumah untuk diabetes tipe 2<\/h4>\n<p>Walaupun tidak bisa disembuhkan, diabetes merupakan kondisi yang bisa Anda rawat dan kendalikan dengan melakukan perubahan gaya hidup secara disiplin.<\/p>\n<p>Selain cara pengobatan yang telah disebutkan di atas, perawatan diabetes rumahan berikut ini juga perlu Anda lakukan agar kadar gula darah tetap normal.<\/p>\n<ol>\n<li>Menjaga kadar gula darah tetap normal dan lakukan cek gula darah secara rutin.<\/li>\n<li>Menjaga berat badan ideal dengan target indeks massa tubuh 18,5 atau kurang dari 23.<\/li>\n<li>Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, meliputi serat, karbohidrat, protein, lemak baik, vitamin, dan mineral.<\/li>\n<li>Berhenti merokok dan kurangi minuman beralkohol.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Di samping itu juga, dokter menyarankan pasien diabetes untuk melakukan konsultasi setidaknya setiap 3 bulan sekali.<\/p>\n<p>Dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan, meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li>kulit dan bentuk tulang pada kaki<\/li>\n<li>telapak kaki mati rasa atau tidak,<\/li>\n<li>tekanan darah,<\/li>\n<li>kesehatan mata, dan<\/li>\n<li>tes HbA1c, setiap 3\u20136 bulan jika diabetes terkontrol dengan baik.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Apabila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan ke dokter untuk pemahaman dan solusi terbaik sesuai kebutuhan Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa itu diabetes tipe 2? Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) adalah kondisi yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. tingginya kadar gula darah disebabkan oleh organ pankreas yang tidak dapat memproduksi hormon insulin secara optimal. &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-1810","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1810","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1810"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1810\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1811,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1810\/revisions\/1811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1810"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1810"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1810"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}