{"id":1902,"date":"2022-01-11T14:15:02","date_gmt":"2022-01-11T07:15:02","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=1902"},"modified":"2022-01-11T14:15:02","modified_gmt":"2022-01-11T07:15:02","slug":"jenis-jenis-cryptocurrency","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/01\/11\/jenis-jenis-cryptocurrency\/","title":{"rendered":"Jenis-Jenis Cryptocurrency"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bitcoin (BTC):<\/strong> Sudah jelas ini harus dimiliki sebagai mother of crypto. Walaupun harganya sempat hampir menyentuh Rp 1 miliar rupiah\/coin tetapi saat ini bitcoin baru mulai memasuki fase diadopsi lebih luas dan menjadi bagian dari bisnis perusahaan-perusahaan dunia termasuk perbankan seperti JP Morgan dan Goldman Sachs yang berarti masih ada potensi ruang gerak yang luas bagi bitcoin untuk terus meluas diadopsi dan meningkat harganya. Membeli bitcoin juga dapat dimulai dari pecahan kecil, biasanya setiap crypto exchange memiliki kebijakan berbeda seperti bisa membeli mulai dari Rp 11.000 atau Rp 50.000. Dengan supply maksimal sebesar 21 juta coin yang tidak dapat ditambahkan lagi dan semakin banyak diadopsi, sudah pasti hukum supply dan demand berlaku. Supply yang semakin terbatas dan demand yang juga semakin tinggi pasti akan mempengaruhi harga per coin yang semakin tinggi.<br \/>\nRiset terbaru di akhir 2021 menyatakan keuntungan tahunan dari desember 2020 ke desember 2021 (YTD Return) Bitcoin adalah 74,38% dibandingkan dengan misalnya Emas Antam (Rp per gram) adalah -14,20% dan IHSG sebesar 10,08%*<\/p>\n<p><strong>Ethereum (ETH):<\/strong> Jika Bitcoin adalah mother of crypto maka Ethereum saya sebut sebagai king of decentralised applications (dApps) Layer 1 and smart contract. Kenapa saya sebut king, karena kelebihan Ethereum saat ini adalah sudah memiliki ribuan dApps dalam ekosistemnya yang mengadopsi smart contractnya dan masih terus bertambah mulai dari #DeFi, #GameFi hingga #NFT. Smart contract merupakan kontrak ketentuan perjanjian transaksi antara pembeli dan penjual langsung yang dimasukkan ke dalam barisan kode huruf dan angka. Kode ini akan tersimpan dalam setiap node yang ada pada seluruh jaringan blockchain. Seluruh transaksi dalam smart contract tercatat, tidak dapat dihapus, dan dapat diakses publik melalui website ethscan. Karenanya, smart contract bersifat transparan dan keamanan data yang terjamin karena sistemnya terdesentral. Namun Ethereum juga tidak lepas dari beberapa kelemahan seperti masih menggunakan konsensus Proof-of-Work menyebabkan gas fee yang tinggi ($15) dan kecepatan transaksi (15 TPS) yang tergolong lambat, meskipun memang kelemahan-kelemahan ini akan diperbaiki saat rilis upgrade ke Ethereum 2.0 di 2022 namun tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kelemahan terutama mengenai gas fee.<\/p>\n<p><strong>Solana (SOL):<\/strong> Solana adalah salah satu coin layer 1 crypto yang saya miliki karena menawarkan kelebihan-kelebihan yang menjadi kelemahan dari Ethereum, bahkan 2021 ini harga coinnya sudah naik lebih dari 15.000%, mencatatkan lebih dari 400 project sudah dibangun yang berbasis Solana, berada di top 5 rank coinmarketcap dan disebut sebagai salah satu blockchain tercepat di ekosistem crypto. Solana menawarkan konsensus Proof-of-History dengan teknologi kecepatan transaksi skalabilitas jauh diatas rata-rata. Kecepatan transaksi yang mampu diproses dan dilakukan oleh Solana di jaringannya (mainnet) adalah 65.000 TPS (Transaction per Second) dengan biaya yang jauh lebih murah sebesar $0,0015 jika dibandingkan dengan Ethereum. Kecepatan transaksi yang mampu diproses ini bahkan mengalahkan Visa (perusahaan keuangan dunia) yang hanya mampu memproses transaksi 2000an TPS. Namun Solana juga punya beberapa kelemahan seperti masih bergantung dengan Solana Foundation yang menyebabkan lebih sering dianggap masih centralised dibandingkan Ethereum dalam memvalidasi transaksi, untuk menjadi node validator transaksi juga membutuhkan CPU\/Komputer yang high-end yang mana dibutuhkan budget nominal besar dan tidak semua orang punya kemampuan tersebut, dan pernah down beberapa kali karena salah satunya serangan bot atas terlalu tingginya transaksi hingga 400.000 TPS<\/p>\n<p><strong>Polkadot (ADA):<\/strong> Polkadot sebagai salah satu coin dan merupakan layer 1 blockchain crypto menawarkan hal berbeda dari blockchain lainnya yang justru menjadi hal yang menarik bagi saya untuk melirik Polkadot. Kenapa berbeda? karena Polkadot menawarkan kelebihan yaitu hub technology bagi berbagai macam blockchain yang disebut dengan Parachain. Disaat banyak developer mengembangkan blockchainnya masing-masing, Polkadot justru menawarkan teknologi Parachain yang dapat menyambungkan antar blockchain. Parachain ini saya ibaratkan mirip seperti bandara bagi pesawat dari seluruh dunia. Dengan Parachain setiap blockchain akan dapat berinteraksi, bertukar data transaksi, dan aset satu sama lain di dalam sistem dengan menggunakan jembatan\/hub tersebut. Fleksibilitas ini mengatasi masalah skalabilitas, keamanan, dan interoperabilitas atas berbagai blockchain yang ada.<\/p>\n<p><strong>Cardano (ADA):<\/strong> Cardano adalah cryptocurrency yang juga merupakan layer 1 blockchain crypto seperti tiga crypto di atas namun developer Cardano yang menjadikannya menarik. Cardano dikembangkan oleh beberapa akademisi dan scientist yang aktif dalam ekosistem cryptocurrency. Cardano oleh beberapa kalangan disebut dengan Blockchain 3.0 atau Blockchain generasi ketiga setelah Bitcoin dan Ethereum. Cardano juga sudah bekerjasama dengan beberapa sektor pendidikan di dunia. Cardano juga menggunakan konsensus Proof-of-Stake yang artinya menggunakan energi jauh lebih sedikit dan efisien dibandingkan Ethereum yang masih menggunakan Proof-of-Work. Meskipun oleh beberapa disebut dengan Blockchain 3.0 namun salah satu kelemahan yang kini masih dihadapi oleh Cardano adalah masih sangat sedikitnya decentralised applications (dApps) atau aplikasi terdesentral yang dibangun dan dirilis diatas blockchain Cardano, meskipun ini hanyalah masalah waktu karena Cardano sekarang sudah berada di rank 7 coinmarketcap.<\/p>\n<p><strong>Polygon (MATIC):<\/strong> Polygon berbeda dengan Ethereum, Solana, Polkadot, dan Cardano. Matic bukan blockchain layer 1 tetapi merupakan blockchain layer 2 dari blockchain Ethereum. Apakah menjadi layer 2 buruk? tidak, Polygon diciptakan untuk menjadi protokol terdesentralisasi sebagai penghubung beberapa jaringan blockchain yang kompatibel dengan Ethereum. Polygon diciptakan untuk memberikan solusi atas beberapa isu blockchain Ethereum, seperti gas fee tinggi, skalabilitas, dan kecepatan yang lambat, tanpa mengurangi aspek keamanan. Menjadi support bagi Ethereum adalah nilai tambah bagi Polygon. Menjadi support juga tidak berarti menjadi tidak bisa mandiri, Polygon saat ini mampu memproses 10.000 TPS, memiliki lebih dari 400 dApps yang dibangun di atas jaringan Polygon dan telah melakukan melakukan beberapa partnership global dengan Google, NFL, dan Ernst &amp; Young (EY) untuk mengimplementasikan teknologi Polygon sebagai bagian dari infrastruktur bisnis. Meskipun begitu kekhawatiran bagi Polygon ke depan adalah persaingan dengan blockchain layer 2 lain yang memang mulai banyak bermunculan untuk mensupport blockchain layer 1 dan Polygon juga dituntut untuk terus mengembangkan blockchainnya karena terus &#8220;kejar-kejaran&#8221; dengan upgrade Ethereum 2.0 yang akan dirilis secara penuh di tahun 2022 ini, meskipun upgrade Ethereum 2.0 tidak akan benar-benar menghilangkan kelemahan Ethereym terutama mengenai gas fee.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bitcoin (BTC): Sudah jelas ini harus dimiliki sebagai mother of crypto. Walaupun harganya sempat hampir menyentuh Rp 1 miliar rupiah\/coin tetapi saat ini bitcoin baru mulai memasuki fase diadopsi lebih luas dan menjadi bagian dari bisnis perusahaan-perusahaan dunia termasuk perbankan &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-1902","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1902","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1902"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1902\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1905,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1902\/revisions\/1905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1902"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1902"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1902"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}