{"id":2369,"date":"2022-04-09T11:09:30","date_gmt":"2022-04-09T04:09:30","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2369"},"modified":"2022-04-06T11:13:25","modified_gmt":"2022-04-06T04:13:25","slug":"sanitizer-vs-cuci-tangan-mana-yang-basmi-virus-lebih-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/04\/09\/sanitizer-vs-cuci-tangan-mana-yang-basmi-virus-lebih-baik\/","title":{"rendered":"Sanitizer vs Cuci Tangan, Mana yang Basmi Virus Lebih Baik?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menghindari dan mencegah virus COVID-19 beserta variannya, salah satu protokol kesehatan yang kerap kali terus diperingatkan pada masyarakat adalah mencuci tangan dengan sabun. Cuci tangan ditujukan untuk membasmi seluruh kuman, bakteri, dan virus yang ada di tangan kamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terlebih lagi, kuman dan virus dapat lebih mudah menyebar melalui tangan yang tidak sengaja menyentuh benda yang terkontaminasi. Selain mencuci tangan, kebanyakan orang menggunakan hand sanitizer untuk membunuh bakteri dan virus di tangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">NHS dan Public Health England sepakat bahwa untuk membunuh sebagian besar virus, hand sanitizer yang digunakan harus mengandung setidaknya 60% alkohol (sebagian besar sanitizer mengandung 60-90% alkohol). Terbukti pada masa awal pandemi, semua orang berbondong-bondong membeli sanitizer untuk mencegah penularan virus corona.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Sanitizer vs Cuci Tangan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sanitizer adalah cairan atau gel yang umumnya digunakan untuk membunuh banyak virus, bakteri, dan mikroorganisme di tangan. Cara ini lebih banyak digunakan masyarakat karena lebih praktis dan mudah dibawa ke mana saja. Walaupun begitu, sayangnya sanitizer tidak dapat menghilangkan semua jenis kuman. Jenis kuman tertentu seperti Cryptosporidium dan norovirus tidak dapat dihilangkan dengan sanitizer.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hand sanitizer mungkin tidak akan bekerja efektif pada tangan kotor dan berminyak. Selain itu, sanitizer juga tidak dapat menghilangkan logam bahan kimia berbahaya, seperti pestisida dan logam berat dari tangan. Hal ini dibuktikan dalam sebuah\u00a0penelitian, di mana dilaporkan bahwa orang yang membersihkan tangan dengan sanitizer mengalami peningkatan kadar pestisida dalam tubuh mereka.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Mengapa Cuci Tangan Lebih Baik?<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cara kerja sanitizer adalah dengan menghancurkan lapisan terluar dari bakteri, virus, dan kuman, sehingga mereka tidak dapat menginfeksi tubuh. Namun, alkohol pada sanitizer tidak efektif pada virus dengan\u00a0kulit\u00a0membran yang keras, seperti norovirus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggunaan sanitizer yang terlalu sering juga dapat menyebabkan iritasi kulit. Iritasi ini disertai dengan ruam kemerahan pada kulit, gatal, dan gejala iritasi lainnya. Hal ini dikarenakan alkohol membuat kulit menjadi kering dan mengelupas, sehingga lebih rentan mengalami iritasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, sabun bekerja dengan cara yang sedikit berbeda. Sabun mengangkat kotoran, minyak, dan zat-zat berbahaya lainnya yang ada di tangan kamu. Di sisi lain, molekul-molekul sabun juga dapat menghancurkan membran permukaan bakteri dan virus. Menurut CDC, cuci tangan lebih efektif sebab:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Orang-orang sering menyentuh wajah tanpa menyadarinya. Kuman dan virus dapat masuk ke tubuh melalui mata, hidung, dan mulut.<\/li>\n<li>Kuman di tangan yang tidak dicuci tidak dapat masuk ke makanan dan minuman. Beberapa jenis kuman bahkan dapat berkembang biak dalam makanan dan minuman yang dapat membuat sakit.<\/li>\n<li>Kuman di tangan yang tidak dicuci bersih dapat berpindah ke benda lain, seperti gagang pintu, meja, mainan, yang kemudian berpindah ke tangan orang lain.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itulah, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir jauh lebih efektif dalam menghilangkan bahan kimia dan semua jenis kuman, termasuk virus COVID-19 dan variannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggunaan hand sanitizer hanya ditujukan jika tidak ada air mengalir dan sabun yang tersedia. Dengan catatan, penggunaannya harus benar dan sanitizer yang digunakan mengandung setidaknya 60% alkohol. CDC tidak menyarankan penggunaan sanitizer jika tangan kamu kotor atau berminyak, karena alkohol tidak dapat bekerja efektif pada tangan yang kotor.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Cara Mencuci Tangan yang Benar<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mencuci tangan sangatlah mudah dan efektif untuk mencegah virus. Tangan yang bersih dapat menghentikan penyebaran kuman dan virus dari satu orang ke orang lain, jadi pastikan untuk selalu mencuci tangan dengan baik dan benar. Berikut ini adalah cara mencuci tangan yang baik:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Basahi tangan dengan air mengalir, lalu aplikasikan sabun pembersih tangan<\/li>\n<li>Gosok-gosok punggung tangan, jari-jari, dan bagian bawah kuku dengan sabun setidaknya selama 20 detik (20 detik sama dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun sebanyak 2 kali).<\/li>\n<li>Bilas tangan hingga bersih dari sabun dengan air yang mengalir.<\/li>\n<li>Keringkan tangan menggunakan handuk bersih atau tisu.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika sabun dan air tidak tersedia, kamu dapat menggunakan sanitizer dengan cara mengaplikasikannya ke telapak tangan, usapkan secara merata, dan tunggu hingga kering. Selain mencuci tangan, lakukan taat prokes dan jaga daya tahan tubuh untuk mencegah penularan COVID-19.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk menghindari dan mencegah virus COVID-19 beserta variannya, salah satu protokol kesehatan yang kerap kali terus diperingatkan pada masyarakat adalah mencuci tangan dengan sabun. Cuci tangan ditujukan untuk membasmi seluruh kuman, bakteri, dan virus yang ada di tangan kamu. Terlebih &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2369","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2369","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2369"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2369\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2370,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2369\/revisions\/2370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}