{"id":2391,"date":"2022-04-22T20:32:20","date_gmt":"2022-04-22T13:32:20","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2391"},"modified":"2022-04-22T20:32:20","modified_gmt":"2022-04-22T13:32:20","slug":"jenis-makanan-perusak-gigi-anda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/04\/22\/jenis-makanan-perusak-gigi-anda\/","title":{"rendered":"Jenis Makanan Perusak Gigi Anda"},"content":{"rendered":"<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Ketika masalah gigi sudah terjadi, maka hal ini bisa menyebabkan komplikasi. Mulai dari sakit gigi, gusi bengkak, hingga infeksi bakteri di gusi dan gigi yang disebut dengan abses. Lebih jauh lagi, jarang menyikat gigi juga bisa menjadi pemicu kerusakan gigi yang kian parah.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Lalu bagaimana cara mencegahnya? Tentu saja dengan memastikan gigi tidak terlalu lama terpapar zat asam di mulut usai mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain itu, ada baiknya Anda mengenali daftar makanan perusak gigi agar lebih waspada sebelum atau setelah mengonsumsinya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Ada banyak menu yang mendapat label sebagai makanan perusak gigi. Bentuknya bisa beragam, mulai dari yang padat, lunak, hingga cairan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Berikut ini beberapa makanan yang tidak baik untuk gigi:<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Permen asam<\/strong><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sejak kecil, permen kerap digunakan sebagai \u2018senjata\u2019 untuk menakuti anak kecil akan ancaman gigi rusak. Lebih jauh lagi, permen yang terasa kecut mengandung asam yang lebih kuat menempel di permukaan gigi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain itu, jika permen ini menempel lama di gigi karena teksturnya yang lembek, mereka bisa memicu\u00a0gigi keropos. Setelah mengonsumsi permen, Anda disarankan untuk segera membersihkan gigi, minimal dengan kumur air putih.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Roti\u00a0<\/strong><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pernah membayangkan roti akan masuk dalam daftar makanan perusak gigi? Nyatanya, saliva di dalam mulut kita akan mengolah kunyahan roti menjadi gula.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sama seperti nasi, kandungan karbohidrat yang ada pada roti juga dapat diolah oleh tubuh menjadi gula. Kandungan gula tersebutlah yang kemudian akan menjadi biang kerok munculnya gigi berlubang.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Belum lagi, ketika roti tersebut teksturnya menggumpal, dan membuat kemungkinan menempel di gigi kian besar. Inilah yang menyebabkan gigi berlubang.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Jika Anda termasuk pecinta roti, akan lebih baik jika Anda mengonsumsi roti gandum dengan kandungan gula lebih rendah.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Alkohol<\/strong><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Bukan gaya hidup sehat namanya jika masih kerap bersinggungan dengan alkohol. Nyatanya, alkohol membuat\u00a0mulut kering. Padahal, air liur atau saliva sangat diperlukan untuk melindungi gigi dari gejala kerusakan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Air liur di dalam rongga mulut memiliki berbagai fungsi. Salah satunya, adalah sebagai pembersih alami rongga mulut. Jika mulut kering atau produksi air liur menurun, maka fungsi tersebut tidak bisa berjalan dengan baik.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Untuk itu, segera konsumsi air putih dan sikat gigi usai mengonsumsi alkohol.<\/p>\n<p><strong><span class=\"css-1pv9cat\"><img decoding=\"async\" src=\"data:;base64,<svg xmlns='http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg' version='1.1' width='410' height='205'\/>&#8221; alt=&#8221;&#8221; aria-hidden=&#8221;true&#8221; \/><\/span>4. Keripik<\/strong><\/p>\n<p>Bersantai sembari mengonsumsi keripik memang seru. Namun masalahnya, keseruan ini tidak selamanya baik untuk gigi. Keripik juga jadi makanan penyebab gigi berlubang yang perlu dibatasi.<\/p>\n<p>Kandungan tepung pada keripik kentang ternyata bisa jadi merusak gigi. Ketika dicerna akan menjadi gula yang terperangkap di antara gigi dan dapat menimbulkan plak. Apalagi, mengonsumsi keripik jarang dalam jumlah sedikit.<\/p>\n<p><strong>5. Buah kering<\/strong><\/p>\n<p>Reputasi buah kering selama ini tentu dianggap sebagai camilan yang menyehatkan. Memang benar. Namun, buah-buahan seperti aprikot, kismis, prune, dan lainnya, rentan melekat dan mengikis gigi<\/p>\n<p>Akibatnya? Gula akan tertinggal di permukaan gigi. Pastikan selalu kumur atau sikat gigi usai mengonsumsinya untuk mempertahankan enamel gigi. Akan lebih baik jika Anda mengonsumsi buah dalam bentuk asli, pastinya lebih rendah kandungan gulanya.<\/p>\n<p>Itu dia sederet makanan yang ternyata bisa merusak gigi Anda. Bukan berarti Anda harus menghindarinya 100 persen, kok. Cukup membatasi konsumsinya untuk mencegah gigi sakit, berlubang, dan gusi berdarah. Selain itu, Anda juga harus pergi ke dokter gigi minimal dua kali setahun<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika masalah gigi sudah terjadi, maka hal ini bisa menyebabkan komplikasi. Mulai dari sakit gigi, gusi bengkak, hingga infeksi bakteri di gusi dan gigi yang disebut dengan abses. Lebih jauh lagi, jarang menyikat gigi juga bisa menjadi pemicu kerusakan gigi &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2391","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2391","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2391"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2391\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2399,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2391\/revisions\/2399"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2391"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2391"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2391"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}