{"id":2524,"date":"2022-06-27T14:37:40","date_gmt":"2022-06-27T07:37:40","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2524"},"modified":"2022-06-30T15:23:25","modified_gmt":"2022-06-30T08:23:25","slug":"dampak-pakai-pakaian-ketat-bisa-picu-gangguan-kesehatan-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/06\/27\/dampak-pakai-pakaian-ketat-bisa-picu-gangguan-kesehatan-ini\/","title":{"rendered":"Dampak Pakai Pakaian Ketat Bisa Picu Gangguan Kesehatan Ini"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Menggunakan pakaian ketat bisa iritasi kulit dan tidak lancarnya peredaran darah. Kebiasaan ini juga bisa memicu gangguan saraf yang menyebabkan masalah pada tubuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi sebagian orang, menggunakan pakaian ketat bisa menjadi kesenangan tersendiri. Pasalnya, baju ketat dianggap dapat menunjukkan lekuk tubuh atau mengikuti tren tertentu.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Namun terlalu sering mengenakan pakaian ketat (dari pakaian dalam, kaus, celana, hingga dasi) dalam jangka panjang, ternyata bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Tak hanya menyebabkan rasa tak nyaman.<\/p>\n<h2 id=\"apa-akibat-jika-memakai-pakaian-terlalu-ketat\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\">Apa akibat jika memakai pakaian terlalu ketat?<\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sejumlah kondisi di bawah ini dapat terjadi bila Anda terlalu sering menggunakan pakaian ketat:<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Pegal-pegal<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penggunaan pakaian yang ketat dapat menyebabkan nyeri otot pada punggung serta leher, terutama pakaian dalam seperti bra.\u00a0Bra atau beha\u00a0yang ketat juga berpotensi membentuk postur tubuh yang buruk, misalnya membungkuk.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Tak hanya itu, tali bra yang mengikat terlalu kencang bisa memicu munculnya garis-garis lekukan pada bahu dan lingkar bawah payudara. Hal ini tentu akan mengganggu penampilan dan bisa menurunkan rasa percaya diri.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pemakaian bra dengan ukuran tidak pas dan kekecilan juga dapat menyebabkan kaum hawa mengalami\u00a0nyeri payudara.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. GERD (<em>gastroesophageal reflux disease<\/em>)<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penggunaan pakaian ketat pada area perut, baik kemeja, celana, maupun ikat pinggang, bisa saja memicu GERD. Kondisi ini lebih umum terjadi pada saat pengguna makan dalam jumlah banyak.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">GERD atau penyakit asam lambung naik\u00a0adalah kondisi di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan, yang umum ditandai dengan sensasi terbakar di dada (<em>heartburn<\/em>).<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pakaian ketat pada area perut bisa saja memberi tekanan ekstra pada area ini, yang turut menekan lambung. Akibatnya, asam lambung kembali naik ke kerongkongan.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Gangguan saraf<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penggunaan pakaian ketat, seperti korset dan stoking, bisa saja menyebabkan gangguan pada saraf area paha atas atau bagian bawah perut. Salah satu contoh masalah yang bisa terjadi adalah\u00a0<em>meralgia paresthetica.<\/em><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><em>Meralgia paresthetica<\/em>\u00a0adalah iritasi saraf pada area paha. Kondisi ini bisa memicu paha terasa nyeri seperti terbakar, atau sakit saat disentuh.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Gangguan aliran darah<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain berpotensi memicu gangguan saraf, penggunaan stoking ataupun celana ketat juga bisa menghambat aliran darah di area paha. Kenapa?<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pasalnya, otot paha mendapatkan tekanan berlebih sehingga aliran darahnya tersendat. Kondisi ini bisa menyebabkan area paha mati rasa.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Keadaan yang sama, yaitu terhambatnya aliran darah, pun bisa terjadi pada area leher apabila Anda mengenakan dasi yang terlalu sesak. Gangguan ini berpotensi memicu masalah yang lebih besar, seperti\u00a0stroke.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Infeksi jamur<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penggunaan celana dalam yang terlalu ketat bisa memicu terjadinya infeksi bakteri maupun jamur pada area kemaluan. Apa alasannya?<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Memakai celana dalam yang ketat dapat meningkatkan temperatur sekaligus kelembapan pada area kemaluan. Sebagai akibatnya, organisme seperti bakteri dan jamur lebih mudah berkembang biak.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>6. Gangguan kesuburan<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pria yang sering menggunakan celana dalam atau celana ketat disebut dapat memiliki\u00a0jumlah sperma lebih sedikit. Penyataan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, namun secara teori, hal tersebut mungkin saja terjadi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pasalnya,\u00a0testis (buah zakar)\u00a0peka terhadap temperatur. Tempatur tinggi yang dapat terjadi akibat penggunaan celana ketat, bisa mengganggu proses pembentukan sperma.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Bagaimana dampak penggunaan pakaian ketat pada organ reproduksi wanita? Sebenarnya sama saja karena pakaian ketat membuat suhu tubuh meningkat sehingga akan berdampak buruk pada organ reproduksi.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>7. Iritasi kulit<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penggunaan pakaian ketat lebih mungkin memicu iritasi hingga\u00a0alergi pada kulit, terutama bila bahan pakaian termasuk kasar.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Baju ketat akan membuat bahannya bersentuhan dan bergesekan langsung dengan kulit Anda. Keadaan ini akan membuat risiko iritasi kulit yang meningkat, apalagi bila kulit Anda mudah berkeringat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penggunaan pakaian ketat mungkin bisa meningkatkan kepercayaan diri Anda pada momen-momen tertentu. Meski demikian, pemakaiannya dalam jangka panjang justru dapat mengganggu kesehatan Anda.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Lebih baik, gunakan pakaian dengan ukuran yang pas dan memiliki bahan yang nyaman seperti katun. Saran ini sangat diutamakan untuk pemilihan pakaian dalam. Pasalnya, pakaian ini akan bersentuhan langsung dengan area pribadi Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menggunakan pakaian ketat bisa iritasi kulit dan tidak lancarnya peredaran darah. Kebiasaan ini juga bisa memicu gangguan saraf yang menyebabkan masalah pada tubuh. Bagi sebagian orang, menggunakan pakaian ketat bisa menjadi kesenangan tersendiri. Pasalnya, baju ketat dianggap dapat menunjukkan lekuk &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2524","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2524","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2524"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2524\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2525,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2524\/revisions\/2525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2524"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2524"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2524"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}