{"id":2693,"date":"2022-08-25T09:36:03","date_gmt":"2022-08-25T02:36:03","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2693"},"modified":"2022-08-31T11:10:24","modified_gmt":"2022-08-31T04:10:24","slug":"makanan-pengganti-nasi-untuk-hidup-yang-lebih-sehat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/08\/25\/makanan-pengganti-nasi-untuk-hidup-yang-lebih-sehat\/","title":{"rendered":"Makanan Pengganti Nasi untuk Hidup yang Lebih Sehat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menjaga kadar gula darah, Anda bisa mencoba alternatif makanan pengganti nasi putih. Seperti ubi, kentang, oat, atau shirataki.Dalam kondisi tertentu, ada kalanya Anda perlu mencari alternatif makanan pengganti nasi putih, sebagai sumber karbohidrat yang lebih sehat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Walaupun nasi putih bermanfaat sebagai sumber energi dan mudah dicerna, Anda perlu berhati-hati karena asupan berlebihan dapat meningkatkan risiko kesehatan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Apa saja alternatif makanan pengganti nasi yang bisa Anda coba?<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Nasi putih adalah makanan pokok sebagian besar masyarakat di benua Asia, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Namun, dalam\u00a0The British Media Journal\u00a0memaparkan bahwa asupan nasi putih yang lebih tinggi dapat meningkatkan risiko\u00a0diabetes tipe 2. Terutama pada orang-orang di Asia.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sebab, ini karena nasi putih termasuk karbohidrat sederhana yang dapat meningkatkan risiko melonjaknya gula darah setelah makan. Itu sebabnya, mencari makanan pengganti nasi putih yang merupakan karbodhirat kompleks jadi pilihan tepat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Beberapa makanan pengganti nasi putih yang bisa jadi pilihan, antara lain:<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Nasi Merah<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Nasi merah adalah salah satu makanan pengganti nasi putih yang paling sering dikonsumsi untuk mereka yang sedang diet.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Nasi merah\u00a0merupakan karbohidrat kompleks yang tinggi protein, serat, antioksidan, dan flavonoid. Ini bermanfaat untuk membantu mengurangi peradangan dalam tubuh serta menjaga kadar radikal bebas.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Mengonsumsi beras merah juga dapat mengurangi kondisi kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Itu sebabnya, nasi merah juga sering diijadikan\u00a0beras untuk diabetes.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Nasi Cokelat<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain nasi merah, ada pula nasi cokelat atau\u00a0<em>brown rice<\/em>\u00a0yang masih merupakan karbohidrat kompleks. Nasi cokelat adalah beras gandum utuh yang telah dihilangkan kulit pelindung luarnya. Dedaknya mengandung antioksidan flavonoid, apigenin, quercetin, dan luteolin.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kalori serta karbohidrat dalam beras cokelat sebenarnya hampir sama dengan nasi merah.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Namun, kandungan seratnya dan proteinnya tiga kali lebih banyak. Itu sebabnya, nasi cokelat lebih baik untuk dijadikan pengganti nasi putih, terutama untuk penderita diabetes atau diet.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kandungan dalam nasi cokelat dapat membantu mengatur kadar gula darah dan insulin, hormon yang menjaga kesehatan kadar gula darah.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Quinoa<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Quinoa\u00a0adalah jenis biji-bijian yang bergizi yang bisa dijadikan pengganti nasi. Quinoa\u00a0mengandung 70% karbohidrat, bebas gluten, dan sumber protein sekaligus serat yang baik untuk kesehatan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Ada pula kandungan mineral yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung dan mengatur kadar gula darah, sehingga aman untuk dikonsumsi penderita\u00a0diabetes.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kandungan serat dan protein yang relatif tinggi juga membuat quinoa dapat Anda jadikan sebagai makanan pengganti nasi putih untuk diet. Sebab, quinoa bisa membuat kenyang lebih lama, sehingga keinginan ngemil bisa ditekan. Selain itu, bagus juga untuk kesehatan pencernaan sehingga berat badan terjaga.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Oat<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Oat juga jadi salah satu pengganti nasi yang baik untuk diabetes ataupun untuk diet. Biji-bijian seperti oat terbuat dari gandum utuh yang kaya akan kandungan vitamin, mineral, dan antioksidan. Oat mentah, mengandung 66% karbohidrat dan 11% di antaranya adalah serat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Berbeda dari nasi putih yang lebih tidak dianjurkan untuk penderita diabetes, oat dipercaya dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan kolesterol di tubuh.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Melalui manfaat di atas, menjadikan\u00a0oat\u00a0sebagai makanan pengganti nasi yang sehat.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Ubi<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Ubi atau\u00a0ubi jalar, bisa menjadi makanan pengganti nasi untuk Anda yang sedang diet.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sebab, berbeda dengan karbohidrat pada nasi putih, karbohidrat pada ubi mengandung lebih banyak serat dan lebih sedikit gula. Ubi yang sudah diolah, mengandung karbohidrat sekitar 18-21%.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Ubi juga kaya akan kandungan provitamin A, vitamin C, dan kalium. Makanan ini pun mengandung antioksidan, yang dapat membantu melindungi tubuh dari berbagai penyakit.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>6. Jagung<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Masyarakat di beberapa wilayah Indonesia, memilih\u00a0jagung\u00a0sebagai makanan pokok pengganti nasi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Hal ini tidak mengherankan sebab jagung juga bisa mengenyangkan. Dalam 100 gram jagung, terdapat 25 gram karbohidrat dan sekitar 3,5 gram protein.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Jagung segar dan bukan berasal dari kemasan kaleng, juga mengandung berbagai bahan bermanfaat seperti serat, vitamin C, dan antioksidan yang baik untuk kesehatan mata.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>7. Kentang<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kentang\u00a0sering dianggap sebagai salah satu sumber karbohidrat yang perlu dihindari. Padahal, kentang juga bisa menjadi alternatif pengganti nasi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Alasannya, karena kentang lebih rendah kalori dan lemak serta tinggi serat daripada nasi putih.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain itu, kentang juga menjadi sumber kalium dan vitamin C yang baik untuk tubuh. Kulit kentang mengandung sekitar 4 gram serat, yang bisa memenuhi sekitar 15% kebutuhan serat harian Anda.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Perlu Anda ingat, cara mengolah kentang juga berpengaruh besar terhadap kandungan nutrisnya. Lebih baik, hindari mengonsumsi kentang goreng dan menambahkan banyak garam.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sebagai gantinya, coba memasak kentang dengan mengukusnya atau memanggangnya dengan menggunakan sedikit minyak zaitun dan rempah-rempah. Hindari makan kentang beku karena biasanya lebih tinggi kalori.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>8. Kacang arab (chickpeas)<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kacang arab\u00a0atau chickpeas, sering digunakan pada makanan Timur Tengah.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Olahan kacang arab, atau disebut juga kacang garbanzo, mengandung 27,4% karbohidrat yang 8% di antaranya adalah serat. Maka dari itu,\u00a0<em>chickpeas<\/em>\u00a0juga cocok menjadi pilihan makanan pengganti nasi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kacang ini juga menjadi sumber protein, sehingga dapat meningkatkan energi di tubuh. Selain itu, ada pula kandungan mineral, vitamin B, zat besi, dan fosfor.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>9. Kacang merah<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kacang merah\u00a0matang mengandung 22,8% karbohidrat dalam bentuk pati dan serat. Makanan pelengkap untuk sup ini, juga kaya akan kandungan protein.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Berbagai kandungan vitamin, mineral, dan antioksidan dalam kacang merah, dipercaya dapat membantu menurunkan kadar gula darah, dan mengurangi risiko\u00a0kanker usus besar.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Tapi ingat, jika ingin menjadikan kacang merah sebagai pengganti nasi untuk diet atau penderita diabetes, pastikan Anda sudah memasaknya dengan baik. Sebab\u00a0menurut penelitian, mengonsumsi kacang merah yang kurang matang bisa memicu keracunan pada beberapa orang.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>10. Kembang kol<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Tahukah Anda kalau kembang kol juga bisa dijadikan sebagai makanan pengganti nasi untuk diet?<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kembang kol\u00a0bisa diolah\u00a0menjadi pengganti nasi untuk Anda yang melakukan\u00a0diet keto. Rendah kalori dan karbohidrat, kembang kol mempunyai rasa yang ringan serta tekstur seperti nasi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Anda cukup memotong kembang kol kecil-kecil dan menghaluskannya di blender atau\u00a0<em>food processor<\/em>\u00a0(tanpa air), hingga bentuknya menyerupai nasi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Setelah itu, tumislah dengan minyak zaitun selama 5-8 menit hingga empuk. Dalam satu cangkir kembang kol, hanya mengandung 25 kalori dan 5 gram karbohidrat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk menjaga kadar gula darah, Anda bisa mencoba alternatif makanan pengganti nasi putih. Seperti ubi, kentang, oat, atau shirataki.Dalam kondisi tertentu, ada kalanya Anda perlu mencari alternatif makanan pengganti nasi putih, sebagai sumber karbohidrat yang lebih sehat. Walaupun nasi putih &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2693","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2693","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2693"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2693\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2696,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2693\/revisions\/2696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2693"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2693"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2693"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}