{"id":2743,"date":"2022-09-13T13:38:14","date_gmt":"2022-09-13T06:38:14","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2743"},"modified":"2022-09-21T13:40:20","modified_gmt":"2022-09-21T06:40:20","slug":"dampak-psikologis-kekerasan-terhadap-wanita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/09\/13\/dampak-psikologis-kekerasan-terhadap-wanita\/","title":{"rendered":"Dampak Psikologis Kekerasan Terhadap Wanita"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Kekerasan terhadap perempuan bukanlah hal yang baru. Kekerasan terhadap perempuan dapat memiliki dampak psikologis yang buruk seperti trauma, reaksi fisik, keinginan bunuh diri, dan berbagai reaksi negatif lainnya.Ketika terjadi kekerasan terhadap perempuan, orang pertama yang paling terdampak adalah pihak korban. Sayangnya, kekerasan terhadap perempuan baik secara verbal, seksual, maupun fisik penyembuhannya tak semudah luka akibat cedera. Bukan hanya fisik, tapi kehidupan psikologisnya juga menjadi taruhan.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Setiap korban kekerasan terhadap perempuan bereaksi dengan cara berbeda. Budaya, sifat, dan konteks kehidupan yang dijalaninya selama ini berpengaruh terhadap caranya bertahan dari kekerasan itu. Waktu untuk bisa pulih bagi para penyintas kekerasan terhadap perempuan juga berbeda-beda.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Hidup orang yang pernah mengalami kekerasan terhadap perempuan tak akan lagi sama. Kekerasan sekecil apapun itu akan membekas dan menjadi bagian dari kehidupannya. Mungkin ada kekerasan yang disepelekan orang lain \u2013 terlebih hukum belum berpihak pada perempuan korban kekerasan \u2013 tapi tetap saja bukan hal remeh bagi orang yang mengalaminya.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Meskipun perempuan yang mengalami kekerasan sudah berhasil keluar dari lingkaran negatif, jangan dikira masalah berhenti sampai di situ. Akan ada rentetan dampak kekerasan terhadap perempuan bagi penyintasnya. Apa saja yang mungkin terjadi?<\/span><\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\"><strong>1. Reaksi emosi<\/strong><\/span><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Baik kekerasan yang berlangsung bertahun-tahun maupun yang baru akan terjadi akan berdampak besar bagi sisi emosi seorang perempuan. Di satu sisi, penyintas bisa merasa menyalahkan diri sendiri atau sebaliknya, begitu marah pada situasi.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Biasanya, emosi-emosi negatif ini juga disertai rasa takut, tidak mudah percaya, sedih, rapuh, dan malu. Sangat mungkin orang yang pernah mengalami kekerasan terhadap perempuan akan merasa dirinya tak lagi berharga.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Pada akhirnya, segala jenis reaksi emosi akibat kekerasan terhadap perempuan ini membuat seseorang bisa menutup diri dari sekitar. Mulai dari keluarga, sahabat, pasangan, bahkan dunia.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\"><strong>2. Dampak psikologis<\/strong><\/span><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Tak hanya emosi, sisi psikologis penyintas kekerasan terhadap perempuan juga akan terpengaruh. Bahkan, meskipun kekerasan yang dialaminya telah cukup lama berlalu. Jenis-jenis dampaknya bisa berupa mimpi buruk yang berhubungan dengan kekerasan, flashback, sulit berkonsentrasi, depresi, hingga post-traumatic stress disorder.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Apabila kondisi ini menjadi semakin parah, sebaiknya tidak didiamkan begitu saja. Salah jika menganggap dampak psikologis pada korban kekerasan terhadap perempuan akan hilang seiring dengan berjalannya waktu.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Seiring dengan kehidupan, akan ada pemantik-pemantik yang membuat memori buruknya muncul kembali. Lebih baik jika penyintas diberikan jenis terapi psikologi sesuai dengan kondisi yang dialaminya.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\"><strong>3. Reaksi fisik<\/strong><\/span><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Tentu kondisi fisik tak bisa berbohong jika seorang perempuan pernah mengalami kekerasan. Baik itu kekerasan hanya terjadi satu kali maupun terus menerus \u2013 seperti kasus KDRT \u2013 akan ada dampaknya secara fisik. Luka fisik akibat kekerasan terhadap perempuan mungkin bisa mereda setelah beberapa waktu.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Meski demikian, tubuh dan reaksi fisik tidak bisa berbohong. Akan ada perubahan mulai dari siklus tidur, pola makan, hingga respons terhadap ancaman. Sangat masuk akal apabila penyintas kekerasan terhadap perempuan menjadi lebih sensitif terhadap bunyi atau sentuhan tertentu yang mengingatkannya kembali pada kekerasan yang pernah dialaminya.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\"><strong>4. Kepercayaan diri<\/strong><\/span><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Masih berhubungan dengan sisi psikologis, penyintas kekerasan terhadap perempuan juga bisa mengalami masalah dengan kepercayaan diri. Lagi-lagi, ini terjadi karena kerap mengalami kekerasan sehingga merasa dirinya tidak berguna.<\/span><\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: helvetica, arial, sans-serif;\">Ketika kepercayaan diri ini runtuh, maka ada kemungkinan merembet pada hal lain seperti cemas berlebih pada situasi tertentu, menghindari tempat atau orang tertentu, terus menerus merasa sedih, bahkan bisa muncul\u00a0suicidal thoughts\u00a0atau keinginan untuk mengakhiri hidup.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kekerasan terhadap perempuan bukanlah hal yang baru. Kekerasan terhadap perempuan dapat memiliki dampak psikologis yang buruk seperti trauma, reaksi fisik, keinginan bunuh diri, dan berbagai reaksi negatif lainnya.Ketika terjadi kekerasan terhadap perempuan, orang pertama yang paling terdampak adalah pihak korban. &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2743","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2743"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2743\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2744,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2743\/revisions\/2744"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}