{"id":2783,"date":"2022-10-15T10:09:08","date_gmt":"2022-10-15T03:09:08","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2783"},"modified":"2022-10-18T10:14:11","modified_gmt":"2022-10-18T03:14:11","slug":"iq-vs-eq-mana-yang-lebih-utama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/10\/15\/iq-vs-eq-mana-yang-lebih-utama\/","title":{"rendered":"IQ vs EQ, Mana yang Lebih Utama???"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sejak dulu pertanyaan mana yang lebih penting antara IQ vs EQ kerap menjadi perdebatan. Di satu sisi, kecerdasan intelektual dianggap sebagai aspek penting seseorang bisa berdaya guna dalam kehidupan. Di sisi lain, aspek emosional tak kalah penting utamanya mengingat manusia adalah makhluk sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak dulu pertanyaan mana yang lebih penting antara IQ vs EQ kerap menjadi perdebatan. Di satu sisi, kecerdasan intelektual dianggap sebagai aspek penting seseorang bisa berdaya guna dalam kehidupan. Di sisi lain, aspek emosional tak kalah penting utamanya mengingat manusia adalah makhluk sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsep IQ sebagai kecerdasan intelektual dulu digaungkan lebih kencang. Segalanya diukur lewat tes IQ. Padahal, uji kecerdasan semacam itu tidak bisa mencakup seluruh aspek kecerdasan manusia, termasuk kecerdasan sosial.<\/p>\n<h2 id=\"perbedaan-iq-vs-eq\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Perbedaan IQ vs EQ<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><em>Intelligence quotient\u00a0<\/em>atau IQ dinilai lewat tes kecerdasan standar. Skor dikalkulasikan dengan membagi usia mental seorang individu terhadap usia kronologi, kemudian dikalikan 100.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Artinya, seorang anak dengan usia mental 15 dan usia kronologi 15 akan memiliki skor IQ sebanyak 150. Sebagian besar hasil dari\u00a0tes intelegensi\u00a0ini akan dibandingkan dengan skor standar dari individu lain yang berasal dari kelompok usia serupa.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Hal-hal yang termasuk dalam kemampuan IQ adalah:<\/p>\n<ul class=\"css-8f5w2\" style=\"text-align: justify;\">\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Proses visual dan spasial<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Pengetahuan seputar dunia<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Daya ingat<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Logika kuantitatif<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Kemampuan berlogika saat menghadapi situasi tidak familiar<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sementara\u00a0<em>emotional intelligence\u00a0<\/em>adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan, mengevaluasi, melihat, dan mengekspresikan emosi. Apresiasi terbesar pada peneliti seperti Peter Salovey dan penulis Daniel Goleman yang membuat sisi lain dari kecerdasan ini juga mendapat sorotan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Beberapa aspek yang termasuk dalam EQ adalah:<\/p>\n<ul class=\"css-8f5w2\" style=\"text-align: justify;\">\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Mengidentifikasi emosi<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Evaluasi perasaan orang lain<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Mengendalikan emosi diri sendiri<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Melihat bagaimana perasaan orang lain<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Menggunakan landasan emosi dalam komunikasi sosial<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Kemampuan\u00a0empati\u00a0dan terkoneksi dengan orang lain<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 1990an, konsep EQ yang semula hanya termaktub dalam jurnal-jurnal akademik semakin dikenal populer. Kini, semakin banyak sekolah atau bahkan mainan yang fungsinya difokuskan untuk menggali kecerdasan emosional.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Bahkan di beberapa sekolah, pembelajaran sosial dan emosional menjadi persyaratan kurikulum yang harus diikuti anak.<\/p>\n<h2 id=\"perdebatan-iq-vs-eq\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Perdebatan IQ vs EQ<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Psikolog asal Amerika Serikat Daniel Goleman pernah menggagas konsep bahwa kecerdasan emosional bisa saja lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Tak hanya itu, psikolog lain Howard Gardner menyebut manusia tak bisa disimpulkan hanya dalam satu aspek kecerdasan saja. Ada banyak aspek intelegensi lain seperti kecerdasan interpersonal,\u00a0kecerdasan visual spasial,dan lainnya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Dari sinilah ditarik kesimpulan bahwa kemampuan memahami dan mengekspresikan emosi juga sama pentingnya seperti kecerdasan. Lebih jauh lagi, hal ini juga berpengaruh signifikan pada bagaimana seseorang menjalani hidupnya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Perdebatan ini tentu tak akan berakhir karena sebenarnya kedua hal baik IQ vs EQ sama-sama krusial. Justru yang lebih penting adalah memastikan keduanya seimbang, hal yang tidak mudah diwujudkan.<\/p>\n<h2 id=\"mana-yang-lebih-penting\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Mana yang lebih penting?<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kini, IQ bukan lagi satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Dulu, orang dengan skor IQ tinggi diasumsikan sebagai sosok yang akan sukses dan berhasil mencapai banyak hal.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, beberapa kritik juga menyoroti bahwa skor intelegensi tinggi bukan jaminan kesuksesan seseorang. Apa gunanya pintar jika tak bisa mengendalikan emosi atau empati kepada orang lain? Justru bisa jadi bahaya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Hingga kini IQ masih digunakan sebagai standar penting kesuksesan seseorang, utamanya jika berhubungan dengan pencapaian akademik. Namun, semakin banyak pula lembaga pendidikan hingga perusahaan yang mengharuskan seseorang memiliki kecerdasan emosional sebagai aspek tak kalah krusial.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Bahkan, penelitian menemukan bahwa potensi menjadi pemimpin berkaitan erat dengan EQ. Sosok dengan kecerdasan emosional baik cocok menjadi pemimpin atau manager sebuah perusahaan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Jangan remehkan pula peran EQ dalam dunia pekerjaan seperti jual beli produk. Dalam penelitian psikolog Daniel Kahneman, ditemukan bahwa pembeli tak segan merogoh kocek lebih dalam untuk barang dengan kualitas lebih rendah selama transaksinya dilakukan dengan orang yang dipercaya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Nah, cara\u00a0membangun kepercayaan\u00a0ini yang tidak semua orang miliki. Individu dengan kecerdasan emosional baik tentu piawai melakukannya sehingga bisa membuat banyak orang menganggapnya bisa diandalkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak dulu pertanyaan mana yang lebih penting antara IQ vs EQ kerap menjadi perdebatan. Di satu sisi, kecerdasan intelektual dianggap sebagai aspek penting seseorang bisa berdaya guna dalam kehidupan. Di sisi lain, aspek emosional tak kalah penting utamanya mengingat manusia &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2783","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2783"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2783\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2785,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2783\/revisions\/2785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}