{"id":2809,"date":"2022-10-21T15:18:28","date_gmt":"2022-10-21T08:18:28","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2809"},"modified":"2022-10-28T15:20:32","modified_gmt":"2022-10-28T08:20:32","slug":"tips-cara-mencegah-usus-buntu-yang-dapat-anda-lakukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/10\/21\/tips-cara-mencegah-usus-buntu-yang-dapat-anda-lakukan\/","title":{"rendered":"Tips Cara Mencegah Usus Buntu yang Dapat Anda Lakukan"},"content":{"rendered":"<p class=\"chakra-text css-1db47vj\" style=\"text-align: justify;\">Cara mencegah usus buntu dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan berserat dan probiotik, minum air putih yang cukup, hingga makan dengan tenang.Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah penyakit yang terjadi ketika usus buntu (apendiks) mengalami penyumbatan atau infeksi sehingga meradang. Untuk menurunkan risikonya, ada berbagai cara mencegah usus buntu yang dapat dilakukan.<\/p>\n<h2 id=\"cara-mencegah-usus-buntu\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Cara mencegah usus buntu<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Meskipun tidak mencegah secara pasti, ada beberapa hal yang diyakini dapat menurunkan risiko terjadinya radang\u00a0usus buntu.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Berikut adalah berbagai pencegahan usus buntu yang dapat Anda terapkan untuk mengurangi risikonya.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Mengonsumsi makanan berserat<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Cara mencegah usus buntu secara alami dapat dilakukan dengan mengonsumsi\u00a0makanan berserat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Alasannya, radang usus buntu dapat disebabkan penumpukan feses yang mengeras (fekalit). Kondisi ini kemungkinan besar terjadi pada orang yang jarang mengonsumsi makanan berserat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sebuah\u00a0studi\u00a0yang dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa 14 dari 19 anak dengan kondisi radang usus buntu akut diketahui jarang mengonsumsi makanan berserat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Oleh sebab itu, para ahli kesehatan menyarankan konsumsi berbagai sumber serat sebagai pencegahan usus buntu akibat penumpukan feses.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Konsumsi jenis makanan ini juga membantu menarik lebih banyak air ke usus besar sehingga tekstur feses tetap lunak dan mudah dikeluarkan tubuh.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Serat juga merangsang gerakan usus senantiasa normal. Ini artinya, baik makanan maupun feses dapat melewati usus dengan lancar tanpa menyebabkan penumpukan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain itu,\u00a0penelitian\u00a0yang dilakukan oleh pusat medis Universitas Maryland mengemukakan bahwa konsumsi makanan berserat dinilai membantu mencegah usus buntu yang meradang dan pecah.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Anda dapat meningkatkan asupan makanan berserat yang berasal dari buah-buahan dan sayuran.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Buah untuk mencegah usus buntu dapat berupa pepaya, apel, dan pisang. Sementara itu, sumber serat lainnya adalah wortel, sayuran hijau, oatmeal, kacang polong, dan biji-bijian utuh.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Mengonsumsi probiotik<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Anda juga bisa mencegah usus buntu dengan mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik, seperti yogurt, tempe, atau kimchi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Walaupun ini bukan cara mencegah usus buntu secara langsung, konsumsi makanan\u00a0probiotik\u00a0dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan tubuh.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Probiotik dianggap membantu menurunkan jumlah bakteri jahat di usus yang bisa menyebabkan penyakit atau peradangan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Asupan ini juga dapat mengganti bakteri jahat dengan bakteri yang baik untuk pencernaan.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Minum air putih yang cukup<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Memenuhi kebutuhan cairan dengan minum air putih adalah hal penting yang tidak boleh Anda lewatkan setiap harinya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain mencegah\u00a0dehidrasi, minum air putih mampu memaksimalkan kinerja usus sehingga makanan yang dikonsumsi dapat melewati saluran pencernaan dengan lancar.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Akan tetapi, apabila konsumsi air putih Anda hanya sedikit, usus akan menyerap cairan dari feses untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Akibatnya, Anda menjadi sulit untuk buang air besar dan memicu penumpukan feses yang meningkatkan risiko radang usus buntu.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Jadi, pastikan Anda\u00a0mencukupi asupan air putih\u00a0setiap hari, setidaknya 8 gelas per hari. Anda juga bisa mendapatkan cairan dari jus buah-buahan atau sup.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Hindari mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Hindari atau kurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak karena dapat menyebabkan\u00a0sembelit\u00a0maupun meningkatkan risiko infeksi, termasuk penyebab radang usus buntu.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Contoh makanan tinggi gula dan lemak adalah permen, biskuit, cokelat batangan, selai, dan minuman ringan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain itu, hindari juga mengonsumsi makanan pedas karena dapat mengiritasi usus dan meningkatkan peradangan.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Tidak menahan buang air besar<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Cara mencegah penyakit usus buntu juga dapat dilakukan dengan buang air besar (BAB) secara teratur. BAB harus dilakukan setiap hari dan jangan menahannya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Jika Anda sering\u00a0menahan BAB, risiko terjadinya penumpukan dan penyumbatan feses di usus buntu yang menyebabkan apendisitis bisa meningkat.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>6. Makan dengan tenang dan perlahan<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Makan dengan tenang juga menjadi cara menghindari usus buntu,\u00a0<em>lho<\/em>.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Menurut\u00a0studi\u00a0yang dimuat dalam\u00a0<em>Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine<\/em>, 1 dari 7 kasus usus buntu dapat terjadi akibat penyumbatan biji-biji makanan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kesimpulan dari studi tersebut menyatakan bahwa pencegahan usus buntu dapat dilakukan dengan makan secara tenang dan perlahan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, Anda dapat mengunyah makanan hingga halus dan biji-biji makanan dapat disingkirkan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Oleh sebab itu, penting untuk tidak mengobrol, main ponsel, atau melakukan kegiatan lainnya yang dapat memecah konsentrasi Anda saat makan.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>7. Rutin cek kesehatan ke dokter<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pencegahan usus buntu juga dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penyakit usus buntu lebih berisiko terjadi pada orang yang pernah mengalami cedera perut atau memiliki riwayat penyakit yang sama di keluarganya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Jika Anda memiliki faktor risiko tersebut, cek kesehatan secara rutin ke dokter dapat membantu memantau kemungkinan perkembangan usus buntu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cara mencegah usus buntu dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan berserat dan probiotik, minum air putih yang cukup, hingga makan dengan tenang.Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah penyakit yang terjadi ketika usus buntu (apendiks) mengalami penyumbatan atau infeksi sehingga meradang. Untuk &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2809","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2809","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2809"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2809\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2811,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2809\/revisions\/2811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2809"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2809"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2809"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}