{"id":2836,"date":"2022-11-09T10:23:47","date_gmt":"2022-11-09T03:23:47","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2836"},"modified":"2022-11-18T10:26:53","modified_gmt":"2022-11-18T03:26:53","slug":"apa-itu-kecerdasan-emosional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/11\/09\/apa-itu-kecerdasan-emosional\/","title":{"rendered":"Apa itu Kecerdasan Emosional?"},"content":{"rendered":"<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kecerdasan emosional adalah istilah yang baru muncul di sekitar tahun 1990-an. Tak heran namanya tidak sepopuler kecerdasan umum atau\u00a0<em>Intelligence quotient\u00a0<\/em>(IQ).<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Istilah kecerdasan emosional sendiri adalah mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola perasaannya sendiri. Bahkan orang-orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi dapat memengaruhi emosi atau perilaku orang lain.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Diberkahi dengan pemahaman terhadap emosi diri sendiri dan orang lain, orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi mudah bergaul, beradaptasi, bahkan memimpin orang lain. Tak heran jika kebanyakan dari mereka memiliki karir yang lebih sukses.<\/p>\n<h2 id=\"ciri-ciri-seseorang-memiliki-kecerdasan-emosional-yang-baik\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Ciri-ciri seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Orang yang memiliki kecerdasan emosional atau\u00a0<em>emotional intelligence (EQ)\u00a0<\/em>bahkan sering tidak menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan tersebut sehingga tidak dapat menjelaskannya secara konkrit.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Namun, ciri-ciri\u00a0<em>emotional intelligence<\/em>\u00a0dapat dilihat dari perilaku orang tersebut, misalnya:<\/p>\n<ul class=\"css-8f5w2\" style=\"text-align: justify;\">\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Mudah akrab dengan orang lain di berbagai situasi.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Terampil dalam memecahkan masalah.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Punya empati kepada orang lain.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Berani berkata \u201ctidak\u201d.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Terbuka dalam mengutarakan perasaannya.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Pendengar yang baik.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Mampu memotivasi diri sendiri.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Bisa memahami perilaku dan tindakan orang lain.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Dapat menerima kritik konstruktif tanpa tersinggung.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Tidak mudah menyalahkan orang lain.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Cepat minta maaf jika salah.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Jika tersinggung, cepat untuk\u00a0<em>move on<\/em>.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Selalu berpikir sebelum bertindak.<\/li>\n<\/ul>\n<h2 id=\"manfaat-memiliki-kecerdasan-emosional-tinggi-di-dunia-kerja\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Manfaat Memiliki Kecerdasan Emosional Tinggi di Dunia Kerja<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain IQ, EQ juga penting untuk membuat karir Anda melesat di dunia kerja. Tidak percaya? Dilansir dari Fastcompany.com, dari penelitian yang dilakukan oleh Center for Creative Leadership (CCL) di Amerika Serikat, ditemukan bahwa banyak kasus pemecatan para eksekutif di perusahaan disebabkan karena kecerdasan emosional yang kurang.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kekurangan ini membuat para eksekutif tersebut sulit bekerja sama dengan orang lain, memiliki kemampuan interpersonal yang buruk, dan sulit menghadapi perubahan. Dan kekurangan ini tidak ada pada mereka yang memiliki\u00a0<em>emotional intelligence<\/em>\u00a0tinggi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Beberapa manfaat yang bisa Anda dapatkan dengan memiliki kecerdasan emosional di dunia kerja adalah.<\/p>\n<ul class=\"css-8f5w2\" style=\"text-align: justify;\">\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\"><strong>Terbuka dalam menerima kritik<\/strong><br \/>\nSering kali kritik terdengar menyakitkan dan membuat kita terpancing untuk emosi. Namun dengan kecerdasan emosional yang baik, Anda bisa menerima masukkan dan memerbaiki diri tanpa harus terbawa emosi.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\"><strong>Tidak ceroboh dalam mengambil keputusan<\/strong><br \/>\nKarena mampu mengendalikan emosi, Anda dapat membuat keputusan tepat yang berdasarkan logika dan penalaran yang baik tanpa harus dipengaruhi oleh perasaan.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\"><strong>Mampu bekerja sama dalam tim<\/strong><br \/>\nKemampuan berkomunikasi yang baik adalah sudah menjadi salah satu ciri khas orang yang memiliki EQ tinggi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik Anda dapat bekerja sama dengan rekan kerja. Selain itu, kemampuan untuk memahami perilaku dan emosi orang lain membuat Anda disenangi oleh rekan kerja.<\/li>\n<\/ul>\n<h2 id=\"bisakah-kecerdasan-emosional-dipelajari\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Bisakah Kecerdasan Emosional Dipelajari?<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Beberapa orang terlahir dengan\u00a0<em>emotional intelligence\u00a0<\/em>yang baik. Namun, kabar baiknya kemampuan ini bisa Anda pelajari. Tetapi Anda membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk mempelajarinya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Cara meningkatkan kecerdasan emosional yang bisa Anda lakukan adalah dengan:<\/p>\n<ul class=\"css-8f5w2\">\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\" style=\"text-align: justify;\">Melatih kemampuan interaksi dan komunikasi Anda dengan orang lain.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\" style=\"text-align: justify;\">Melatih sifat rendah hati dengan cara membiarkan orang lain bersinar atas pencapaiannya atau belajar mencapai tujuan Anda tanpa mengincar pujian dan perhatian dari orang lain.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\" style=\"text-align: justify;\">Melatih rasa empati terhadap keadaan orang lain.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\" style=\"text-align: justify;\">Belajar mengelola stres dan berlatih untuk tenang saat berada di posisi yang membuat Anda marah atau emosi.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\" style=\"text-align: justify;\">Belajar menerima kritik membangun dengan lapang dada.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\" style=\"text-align: justify;\">Melatih diri untuk tidak selalu menyalahkan orang lain.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\" style=\"text-align: justify;\">Belajar menghargai pendapat orang lain.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kecerdasan emosional adalah istilah yang baru muncul di sekitar tahun 1990-an. Tak heran namanya tidak sepopuler kecerdasan umum atau\u00a0Intelligence quotient\u00a0(IQ). Istilah kecerdasan emosional sendiri adalah mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola perasaannya sendiri. Bahkan orang-orang dengan kecerdasan &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2836","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2836"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2836\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2837,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2836\/revisions\/2837"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}