{"id":2840,"date":"2022-11-07T10:37:29","date_gmt":"2022-11-07T03:37:29","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2840"},"modified":"2022-11-18T10:39:26","modified_gmt":"2022-11-18T03:39:26","slug":"bahaya-gaya-hidup-hedonisme-dan-cara-mengatasi-gaya-hidup-hedonisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2022\/11\/07\/bahaya-gaya-hidup-hedonisme-dan-cara-mengatasi-gaya-hidup-hedonisme\/","title":{"rendered":"Bahaya gaya hidup hedonisme dan Cara Mengatasi gaya hidup hedonisme"},"content":{"rendered":"<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Layaknya banyak hal di dunia ini yang memiliki dua sisi, hedonisme juga tidak luput dari bahaya yang menyertainya. Hedonisme erat kaitannya dengan godaan dan\u00a0nafsu manusia\u00a0akan kesenangan semata.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Meskipun begitu, Aristippus berpendapat bahwa memang benar orang harus mencari kesenangan dalam hidup. Namun, mereka tetap harus menggunakan pertimbangan akal sehat agar mampu mengendalikan nafsu yang tak selalu baik bagi dirinya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Apabila pada praktiknya terjadi penyalahgunaan prinsip hedonisme ini, akan berakibat buruk baik bagi individu yang menjalaninya maupun lingkungan di sekitarnya. Dampak hedonisme akan membuat hidup Anda malah tidak bahagia. Berikut dampak buruk dari gaya hidup hedonisme:<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Meningkatkan perilaku konsumtif\/konsumerisme<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Hedonisme yang kita kenal sekarang mungkin sangat menggambarkan konsumerisme. Selain itu, hedonisme sudah bergeser maknanya dari mengejar kesenangan yang bisa bermacam bentuknya, menjadi lebih ke bentuk materi dan perilaku konsumtif. Dalam upayanya untuk memuaskan kesenangannya akan materi, seorang hedonis bisa saja menghabiskan barang dan jasa yang tersedia secara berlebihan.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Memiliki pandangan hidup serbainstan<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Seorang hedonis akan melihat suatu harta sebagai hasil akhir dan tidak terlalu menganggap proses untuk mencapai hasil akhir tersebut. Akibatnya, seseorang akan melakukan pembenaran atau rasionalisasi dalam memenuhi semua kesenangannya, meskipun tindakan yang dilakukannya salah.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Berorientasi pada harta<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Seorang hedonis bisa saja memiliki pandangan semu bahwa memiliki barang-barang berteknologi mutakhir dan serba mewah adalah suatu kebanggaan bagi dirinya sendiri. Inilah ciri-ciri hedonisme yang paling melekat pada pandangan masyarakat<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Sulit hidup menderita dan berakhir tidak bahagia<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kesenangan tentunya akan memudar seiring berjalannya waktu, begitu pula dengan materi yang dimiliki. Pada hakikatnya, hidup juga memberikan kekecewaan dan rasa sakit. Dua hal tersebut berpotensi menumpulkan kepekaan akan emosi yang dirasakan dan berakhir dengan perasaan hampa.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Kencanduan gaya hidup tidak sehat<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Hal ini dapat terjadi jika jenis kesenangan yang dipilih adalah yang berbahaya bagi kesehatan. Contohnya, seseorang mendapatkan kesenangan\u00a0dari alkohol, rokok, obat-obatan, atau seks. Jika tidak dibatasi, semua hal tersebut tentunya dapat merugikan bagi kesehatan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Gaya hidup hedonisme sejatinya berasal dari pemikiran yang baik. Faktanya, hidup memang harus dipenuhi rasa senang agar bisa bahagia dalam menjalani hidup yang lebih bermakna. Jika ingin menerapkan gaya hidup hedonisme, berpeganglah pada prinsip dasar dari pemahaman ini. Mendapatkan kesenangan hidup kuncinya adalah keseimbangan dan kontrol diri.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana prinsip Aristippus yang menciptakan paham ini, \u201c<em>I possess but I am not possessed<\/em>\u201d yang berarti &#8220;Saya memiliki (kesenangan hidup), tapi saya tidak dikuasai olehnya&#8221;.<\/p>\n<h2 id=\"cara-mengatasi-gaya-hidup-hedonisme\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Cara Mengatasi gaya hidup hedonisme<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pandangan tentang hedonisme harus dimulai dari diri sendiri. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghilangkan gaya hidup hedonisme:<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Mengatur keuangan<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Seharusnya Anda memiliki anggaran keuangan dalam sebulan. Anggaran ini harus disesuaikan dengan penghasilan bulanan. Cobalah membuat catatan keuangan rutin yang berisi pemasukan dan pengeluaran Anda.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Mengurangi pengeluaran konsumtif<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Pengeluaran konsumtif pun harus segera dibatas. Misalnya pengeluaran untuk makan makanan mewah di restoran. Cobalah untuk memasak sendiri di rumah.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Mengurangi penggunaan kartu kredit<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Cobalah lebih bijaksana dalam penggunaan kartu kredit. Anda harus menganggap dana dari kartu kredit tersebut hanya bisa digunakan jika memang sangat perlu. Ubah pikiran bahwa kartu kredit adalah uang tambahan.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\">4. Membiasakan untuk menabung<\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Menabung perlu dilakukan secara rutin berapa pun besarannya. Coba juga buat tujuan menabung yang memang Anda inginkan. Misalnya, membeli laptop baru pada 2 atau 3 tahun lagi.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Mengatakan &#8220;tidak&#8221;<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Salah satu hal yang paling sulit adalah mengatakan tidak pada sebuah ajakan. Namun, Anda perlu melakukan itu pada banyak hal. Menghadari ajakan teman untuk makan mewah mungkin perlu dilakukan. Namun, cobalah menolak saat itu berlangsung terlalu sering.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Layaknya banyak hal di dunia ini yang memiliki dua sisi, hedonisme juga tidak luput dari bahaya yang menyertainya. Hedonisme erat kaitannya dengan godaan dan\u00a0nafsu manusia\u00a0akan kesenangan semata. Meskipun begitu, Aristippus berpendapat bahwa memang benar orang harus mencari kesenangan dalam hidup. &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2840","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2840"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2840\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2841,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2840\/revisions\/2841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}