{"id":2974,"date":"2023-01-04T15:15:50","date_gmt":"2023-01-04T08:15:50","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=2974"},"modified":"2023-01-20T15:17:47","modified_gmt":"2023-01-20T08:17:47","slug":"yang-harus-diperhatikan-dari-konsumsi-kacang-merah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2023\/01\/04\/yang-harus-diperhatikan-dari-konsumsi-kacang-merah\/","title":{"rendered":"Yang Harus diperhatikan dari konsumsi kacang merah"},"content":{"rendered":"<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\">Di samping manfaat kacang merah, serta nutrisinya yang memukau, Anda harus berhati-hati dalam mengonsumsinya. Sebab, kacang merah memiliki sifat racun, kandungan antinutriennya, serta berisiko menyebabkan perut kembung.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\"><strong>1. Sifat racun kacang merah mentah<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\">Kacang merah mentah mengandung racun, yang disebut\u00a0<em>phytohaemagglutinin<\/em>. Kandungan ini ditemukan juga pada\u00a0jenis kacang\u00a0lain, tapi kadarnya sangat tinggi di kacang merah.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\">Walau begitu, merendam dan memasak bahan makanan ini, dapat menghilangkan sebagian besar racun tersebut. Sehingga, sebelum mengonsumsinya, Anda harus merendam kacang merah minimal 5 jam. Kemudian, rebuslah kacang merah pada suhu 100 derajat Celcius, setidaknya selama 10 menit.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\"><strong>2. Kandungan antinutrien pada kacang merah<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\">Antinutrien adalah kandungan yang dapat menghambat penyerapan zat gizi lain. Walau terkadang bermanfaat, kandungan nutrien juga dapat menjadi masalah, terlebih bagi masyarakat yang menyantap kacang-kacangan sebagai makanan pokok.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\">Beberapa contoh antinutrisi dalam kacang merah yaitu:<\/p>\n<ul class=\"css-8f5w2\">\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Asam fitat, antinutrisi yang mengganggu penyerapan mineral seperti zat besi dan zinc.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Penghambat protease atau penghambat tripsin,\u00a0antinutrisi yang mengganggu fungsi enzim di saluran pencernaan dan menghambat penyerapan zat besi.<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Penghambat pati. Sesuai namanya, penghambat pati dapat mengganggu penyerapan karbohidrat di saluran cerna.<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\">Merendam dan memasaknya, juga menjadi cara yang ampuh, untuk menonaktifkan zat-zat antinutrien tersebut.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\"><strong>3. Risiko perut kembung<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\">Bagi beberapa orang, kacang merah dapat menimbulkan efek tidak menyenangkan. Efek tidak menyenangkan tersebut dapat berupa perut kembung hingga diare. Merendam dan memasaknya dengan benar, dapat menyingkirkan zat\u00a0pemicu perut kembung\u00a0dan diare tersebut, walau sifatnya hanya sebagian.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di samping manfaat kacang merah, serta nutrisinya yang memukau, Anda harus berhati-hati dalam mengonsumsinya. Sebab, kacang merah memiliki sifat racun, kandungan antinutriennya, serta berisiko menyebabkan perut kembung. 1. Sifat racun kacang merah mentah Kacang merah mentah mengandung racun, yang disebut\u00a0phytohaemagglutinin. &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2974","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2974"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2974\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2975,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2974\/revisions\/2975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}