{"id":3132,"date":"2023-04-05T11:04:54","date_gmt":"2023-04-05T04:04:54","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=3132"},"modified":"2023-04-05T11:04:54","modified_gmt":"2023-04-05T04:04:54","slug":"waspada-minum-kopi-saat-berbuka-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2023\/04\/05\/waspada-minum-kopi-saat-berbuka-puasa\/","title":{"rendered":"Waspada Minum Kopi Saat Berbuka Puasa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Buka puasa pasti ditunggu oleh para pencinta kopi karena mereka bisa kembali meminumnya. Sayangnya, kamu perlu hati-hati saat buka puasa menggunakan kopi. Minuman yang satu memiliki tingkat keasaman yang tinggi yang bisa mengganggu pencernaan apalagi kalau diminum saat perut kosong.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kopi digolongkan sebagai minuman yang asam jika diukur dengan skala pH (<em>power of hydrogen<\/em><a class=\"chakra-link css-1fvqfem\" href=\"https:\/\/www.sehatq.com\/artikel\/apa-sih-manfaat-ph-tubuh-seimbang-selama-puasa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">)<\/a>. Skala ini juga digunakan untuk mengukur tingkat asam dan basa yang dimiliki tubuh. Dalam skala pH, angka 7 adalah pH netral dan angka di atas 7 dinyatakan sebagai pH basa.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, angka 0\u20146 digolongkan sebagai asam, dan semakin rendah angkanya berarti semakin tinggi tingkat keasamannya. Kopi memiliki rata-rata tingkat keasaman sekitar 4,85\u20145,10.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Tingginya tingkat keasaman ini dapat membawa pengaruh buruk terhadap keseimbangan pH tubuh. Ditambah lagi, perut juga dalam kondisi kosong karena seharian berpuasa sehingga pH tubuh menjadi semakin asam. Atas dasar inilah, kebiasaan buka puasa dengan kopi sebaiknya dikurangi.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kadar pH tubuh yang asam dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh yang berkaitan dengan sistem imun. Kondisi ini dapat memicu respons sistem imun yang berlebihan sehingga malah membuatnya menjadi lemah dan memicu peradangan. Hasilnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Ditambah lagi, berbagai virus dan bakteri yang menyebabkan pilek, flu, serta berbagai masalah lainnya dapat berkembang dengan leluasa dalam kondisi tubuh yang asam.<\/p>\n<h2 id=\"bahaya-buka-puasa-pakai-kopi\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Bahaya buka puasa pakai kopi<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Puasa membuat perut kosong lebih dari 13 jam. Lalu, kamu \u201cguyur\u201d dengan kopi. Berikut sejumlah bahaya yang bisa muncul:<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Meningkatkan risiko dehidrasi<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kopi merupakan minuman yang bersifat diuretik atau merangsang untuk buang air kecil. Biarpun ada penelitian yang bilang bahwa kafein kopi hanya memberikan efek diuretik ringan, kamu tetap perlu waspada. Pasalnya, kondisi ini mungkin bertahan saat menjalankan puasa di kemudian hari. Karena itu, kamu perlu jaga asupan cairan dengan konsumsi air putih lebih banyak.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Masalah sistem pencernaan<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Kopi bisa membantu merangsang kerja usus besar dalam mengelola makanan di dalamnya. Sejumlah pendapat menyarankan minum kopi untuk membantu mempercepat pencernaan hingga pada urusan buang air besar. Sayangnya, hal tersebut bisa jadi masalah kalau tidak ada makanan yang harus cepat-cepat dibuang. Bisa jadi, pencernaan kamu malah terganggu hingga diare menyerang.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Meningkatkan masalah lambung<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Minum kopi saat perut kosong setelah buka puasa juga meningkatkan risiko GERD (<em>Gastroesophageal reflux<\/em>). Hal ini disebabkan oleh tingkat keasaman kopi yang tinggi yang bertemu dengan keasaman dari lambung. Kondisi serupa juga bisa terjadi saat kamu minum teh, soda, dan cokelat saat perut kosong Biarpun begitu, kondisi ini bisa berbeda pada setiap orang. Kalau memang kamu salah satu orang yang memiliki risiko GERD, ya hindari minum kopi saat buka puasa.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Gangguan tidur<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Waktu berbuka puasa lebih dekat dengan jam tidur ketimbang aktivitas lainnya. Hal ini memungkinkan munculnya masalah tidur pada malam hari. Ingat, kamu tetap harus bangun pagi untuk melaksanakan sahur. Alih-alih lebih segar, minum kopi setelah berbuka puasa malah akan membuat kamu lemas dan tidak bertenaga keesokan harinya.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Meningkatkan gangguan kecemasan<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Dampak buruk lain yang bisa muncul saat minum kopi adalah rasa cemas yang meningkat. Pasalnya, kopi akan membuat kerja jantung lebih cepat. Hal ini akan lebih cepat terjadi saat perut kosong. Kamu bisa jadi lebih gugup, gemetar, atau gangguan kecemasan lainnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buka puasa pasti ditunggu oleh para pencinta kopi karena mereka bisa kembali meminumnya. Sayangnya, kamu perlu hati-hati saat buka puasa menggunakan kopi. Minuman yang satu memiliki tingkat keasaman yang tinggi yang bisa mengganggu pencernaan apalagi kalau diminum saat perut kosong. &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3132","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3132","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3132"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3132\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3133,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3132\/revisions\/3133"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}