{"id":3138,"date":"2023-04-01T11:19:43","date_gmt":"2023-04-01T04:19:43","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=3138"},"modified":"2023-04-05T11:25:47","modified_gmt":"2023-04-05T04:25:47","slug":"apakah-penderita-stroke-boleh-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2023\/04\/01\/apakah-penderita-stroke-boleh-puasa\/","title":{"rendered":"Apakah penderita stroke boleh puasa?"},"content":{"rendered":"<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penderita stroke boleh puasa tergantung pada kemampuan pasien dan harus mendapat izin dari dokter. Meski begitu, pada pasien dengan kondisi stroke berat umumnya tidak dianjurkan berpuasa.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Hal ini karena orang yang terkena stroke biasanya memiliki keterbatasan fisik dan membutuhkan perawatan khusus.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Stroke terjadi karena adanya penurunan atau penyumbatan suplai darah ke otak. Ada berbagai jenis stroke dengan tingkat keparahan yang berbeda pula.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Berpuasa di bulan Ramadan yang mengharuskan Anda tidak makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa di bulan Ramadan ini punya konsep yang mirip dengan diet puasa atau <em>intermittent fasting<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penderita stroke boleh saja puasa selama mengikuti anjuran dari dokter. Namun, umumnya penderita stroke berat tidak dianjurkan berpuasa.Banyak penderita penyakit kronis yang bertanya-tanya, apakah dirinya boleh puasa atau tidak, salah satunya penyakit stroke. Wajar saja, sebab pola makan dan minum waktu berpuasa berbeda dengan hari-hari lain.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sementara, mungkin ada saja obat yang harus diminum rutin untuk mengendalikan penyakitnya. Lantas, apakah ini artinya penderita stroke tidak boleh berpuasa?<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Simak ulasan lengkap beserta tips aman puasa di bulan Ramadan bagi penderita stroke berikut ini.<\/p>\n<h2 id=\"tips-aman-puasa-bagi-penderita-stroke\" class=\"chakra-text css-eaeo5s\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Tips aman puasa bagi penderita stroke\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Meski banyak penelitian yang membuktikan manfaat puasa bagi penderita stroke, risiko kekambuhan bisa saja terjadi jika puasa dilakukan tidak tepat.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\"><em>American Academy of Neurology<\/em> menyatakan bahwa puasa yang berkepanjangan justru dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke terutama pada seseorang yang memiliki riwayat pengentalan darah (hiperkoagulasi) dan wanita yang sedang mengonsumsi pil KB.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana <em>Journal of the American Heart Association<\/em><em>, <\/em>kemungkinan kejadian stroke di bulan Ramadan terjadi akibat dehidrasi saat puasa, alias penurunan asupan cairan, peningkatan kekentalan darah, dan terjadinya trombosis.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Untuk mencegah kekambuhan dan perburukan kondisi, ada beberapa tips aman berpuasa bagi penderita stroke yang bisa Anda lakukan, antara lain:<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>1. Berkonsultasi ke dokter sebelum puasa\u00a0<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Sebelum memutuskan menjalankan puasa Ramadan, penderita stroke harus berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi kesehatannya.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Selain itu, waktu minum obat saat puasa juga perlu penyesuaian. Mengubah jadwal atau dosis obat yang Anda konsumsi membutuhkan rekomendasi dan saran dari dokter. Jangan menghentikan atau mengubah pengobatan tanpa konsultasi dokter karena bisa meningkatkan risiko efek samping ataupun obat tidak bekerja dengan baik.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Penuhi kebutuhan cairan\u00a0<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Anda perlu memenuhi kebutuhan cairan yang cukup selama puasa. Cobalah untuk mengatur waktu agar tetap bisa minum air 8 gelas sehari. Untuk aturan minum air putih selama puasa, Anda bisa mengikuti rumus 2-4-2, yakni 2 gelas saat berbuka, 4 gelas dari waktu makan besar hingga menjelang tidur, dan 2 gelas saat sahur.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Dehidrasi merupakan salah satu faktor risiko stroke yang mungkin terjadi selama puasa. Itu sebabnya, penting bagi penderita stroke yang ingin puasa untuk memenuhi kebutuhan cairannya.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>3. Penuhi kebutuhan nutrisi<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Makan makanan bergizi seimbang selama sahur dan berbuka sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi penderita stroke selama puasa. Selain membuat Anda kuat puasa seharian, makanan bergizi juga membantu tubuh tetap sehat.<\/p>\n<div id=\"gc-instream-9150273305\" class=\"styles-module_player_2NJ7N\" style=\"text-align: justify;\" data-ref=\"player\" data-test-id=\"gliaplayer-player\" data-arb-aspect-ratio=\"1.7777777777777777\" data-arb-resize-mode=\"horizontal\">\n<div class=\"ImaAd-module_root_2DAhA\" data-ref=\"imaAd\" data-status=\"reset\" data-ad-unit-group-order=\"121\" data-ad-unit-group-id=\"25\">\n<div class=\"ImaAd-module_ad-container_3jKnP\" data-ref=\"imaAdContainer\" data-test-id=\"ima-ad-container\">Beberapa tips dan aturan makan saat berbuka dan sahur bagi penderita stroke, antara lain:<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<ul class=\"css-8f5w2\" style=\"text-align: justify;\">\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Batasi penggunaan garam dan gula<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Lebih banyak konsumsi sayuran dan buah<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Hindari makanan olahan atau cepat saji<\/li>\n<li class=\"chakra-text css-nlj39t\">Hindari makanan manis, gorengan, dan lemak jenuh<\/li>\n<\/ul>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Tetap menjalankan terapi<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Beberapa penderita stroke biasanya diagendakan untuk melakukan terapi pengobatan, misalnya fisioterapi. Selama menjalankan puasa, Anda bisa tetap menjalankan terapi sesuai dengan anjuran dokter atau terapis.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Disiplin minum obat\u00a0<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Penderita stroke boleh puasa asalkan tetap disiplin minum obat. Beberapa obat rutin biasanya harus dikonsumsi penderita stroke selama pengobatan.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Minum obat saat puasa tetap dapat dilakukan. Untuk mengetahui aturan minum obat selama puasa, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Dokter mungkin saja meningkatkan dosis dan mengurangi frekuensi minum obat agar ibadah Anda tidak terganggu.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>6. Tetap beraktivitas fisik\u00a0<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Bagi penderita stroke ringan atau pascastroke, olahraga dengan intensitas ringan bisa menjadi cara mencegah sekaligus meringankan gejala stroke.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Tetap beraktivitas fisik bisa membuat peredaran darah lebih stabil dan mengelola berat badan sehingga menurunkan risiko stroke.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Konsultasikan dengan dokter terkait olahraga untuk stroke yang tepat sesuai dengan kondisi Anda.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Dikutip dari <em>Harvard Medical School<\/em><em>, <\/em>olahraga paling tidak 30 menit dalam sehari beserta gaya hidup dan pola hidup sehat dianjurkan untuk menurunkan faktor risiko stroke dan membantu kesehatan tubuh optimal.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Olahraga saat puasa dapat dilakukan setidaknya 30 menit sebelum jam berbuka.<\/p>\n<h3 class=\"chakra-text css-lw5juy\" style=\"text-align: justify;\"><strong>7. Hindari rokok dan alkohol\u00a0\u00a0<\/strong><\/h3>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Rokok dan alkohol masih menjadi faktor risiko terjadinya berbagai penyakit kronis, termasuk stroke dan gangguan kardiovaskuler.<\/p>\n<p class=\"chakra-text css-eq7bd3\" style=\"text-align: justify;\">Menghindari kebiasaan merokok dan minum alkohol bisa menjadi langkat tepat mencegah sekaligus mengatasi kejadian stroke dan memperparah kondisi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penderita stroke boleh puasa tergantung pada kemampuan pasien dan harus mendapat izin dari dokter. Meski begitu, pada pasien dengan kondisi stroke berat umumnya tidak dianjurkan berpuasa. Hal ini karena orang yang terkena stroke biasanya memiliki keterbatasan fisik dan membutuhkan perawatan &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3138","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3138"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3139,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3138\/revisions\/3139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}