{"id":7852,"date":"2024-11-14T10:03:52","date_gmt":"2024-11-14T03:03:52","guid":{"rendered":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/?p=7852"},"modified":"2024-11-26T10:04:42","modified_gmt":"2024-11-26T03:04:42","slug":"komunikasi-politik-populis-studi-kasus-pada-kampanye-pemilu-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/2024\/11\/14\/komunikasi-politik-populis-studi-kasus-pada-kampanye-pemilu-2024\/","title":{"rendered":"Komunikasi Politik Populis: Studi Kasus pada Kampanye Pemilu 2024"},"content":{"rendered":"<p>Komunikasi politik populis semakin menjadi perhatian dalam diskursus akademis, terutama dalam konteks pemilu. Pendekatan populisme dalam komunikasi politik melibatkan narasi yang mengutamakan kedekatan dengan rakyat, pemanfaatan media sosial, dan pembingkaian isu yang memengaruhi sentimen publik. Artikel ini menganalisis bagaimana strategi komunikasi politik populis diterapkan dalam kampanye Pemilu 2024 di Indonesia, dengan fokus pada retorika, media yang digunakan, dan dampaknya terhadap persepsi pemilih.<\/p>\n<h2>Karakteristik Komunikasi Populis<\/h2>\n<p>Komunikasi politik populis sering kali mencakup beberapa elemen berikut:<\/p>\n<p>1. Retorika Pro-Rakyat<br \/>\nKandidat menggunakan narasi yang menggambarkan dirinya sebagai bagian dari rakyat biasa, sering kali dengan menonjolkan ketidakseimbangan kekuasaan antara &#8220;elite&#8221; dan &#8220;masyarakat umum.&#8221;<br \/>\n2. Pemanfaatan Media Sosial<br \/>\nPlatform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter menjadi alat utama untuk menyampaikan pesan populis, karena memberikan akses langsung kepada khalayak luas dan memungkinkan interaksi yang lebih personal.<br \/>\n3. Pembingkaian Krisis dan Solusi Sederhana<br \/>\nPopulisme sering kali berakar pada eksploitasi isu-isu krisis, seperti ekonomi, kesehatan, atau ketimpangan sosial, dengan menawarkan solusi yang tampak sederhana dan mudah diterapkan.<\/p>\n<h3> Studi Kasus Kampanye Pemilu 2024<\/h3>\n<p>1. Retorika Populis dalam Pidato dan Debat Publik<br \/>\nPada Pemilu 2024, beberapa kandidat menggunakan bahasa yang emosional untuk menciptakan ikatan psikologis dengan pemilih. Misalnya, beberapa kandidat menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan mencitrakan diri sebagai &#8220;pejuang rakyat&#8221; yang melawan dominasi elite.<\/p>\n<p>2. Strategi Digital dan Media Sosial<br \/>\nMedia sosial memainkan peran penting dalam kampanye Pemilu 2024. Kandidat tertentu menggunakan TikTok untuk mempublikasikan aktivitas sehari-hari yang sederhana, seperti mengunjungi pasar atau berbincang dengan pedagang kaki lima. Strategi ini berhasil menciptakan citra yang merakyat dan mudah diakses.<\/p>\n<p>3. Penggunaan Isu Lokal dan Nasional<br \/>\nIsu-isu seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, pendidikan, dan lapangan kerja menjadi fokus utama. Para kandidat mengadopsi pendekatan populis dengan menggambarkan diri mereka sebagai pemimpin yang memiliki solusi langsung dan nyata untuk permasalahan ini.<\/p>\n<h2>Dampak terhadap Persepsi Pemilih<\/h2>\n<p>Komunikasi politik populis terbukti efektif dalam memengaruhi emosi pemilih. Namun, ada beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan:<br \/>\n&#8211; Polarisasi Politik<br \/>\nPendekatan populis cenderung menciptakan dikotomi antara &#8220;kami&#8221; dan &#8220;mereka,&#8221; yang dapat memperburuk polarisasi politik di masyarakat.<br \/>\n&#8211; Simplifikasi Isu Kompleks<br \/>\nSolusi yang disampaikan melalui retorika populis sering kali terlalu menyederhanakan isu-isu kompleks, yang pada akhirnya bisa mengecewakan pemilih.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Komunikasi politik populis semakin menjadi perhatian dalam diskursus akademis, terutama dalam konteks pemilu. Pendekatan populisme dalam komunikasi politik melibatkan narasi yang mengutamakan kedekatan dengan rakyat, pemanfaatan media sosial, dan pembingkaian isu yang memengaruhi sentimen publik. Artikel ini menganalisis bagaimana strategi &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-7852","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7852","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7852"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7852\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7853,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7852\/revisions\/7853"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pji.uma.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}