Cara Mengatasi Hustle Culture di Masa Pandemi
Sebutan hustle culture cukup populer di kalangan milenial karena sejalan dengan kondisi yang dihadapi oleh kaum muda yang saat ini mendominasi di berbagai sektor ini. Hustle culture merupakan sebutan terhadap orang-orang yang menjalani gaya hidup, yang mana ia terus bekerja keras dan sedikit waktu. Bahkan tidak ada waktu untuk beristirahat dengan harapan akan mencapai kesuksesan, istilah awamnya adalah ‘gila kerja’.
Mereka percaya bahwa melakukan kerja secara non stop, akan dianggap sebagai orang yang produktif serta bisa mendapat karir yang diinginkan. Seseorang yang terobsesi dengan “kerja lembur bagai kuda” ini memiliki motivasi yang berbeda-beda, beberapa di antaranya adalah keinginan untuk sukses finansial di usia muda, tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dari atasan, harga diri yang didapatkan saat bisa mengerjakan tugas-tugas yang menantang, hingga alasan passion dalam melakukan pekerjaan idaman.
Sayangnya, hustle culture ini bisa menjadi jebakan karena ketika seseorang tahu bahwa dirinya butuh istirahat dan refreshing, tapi di sisi lain hal ini justru membuatnya merasa bersalah. Ia merasa bahwa semakin banyak bekerja, terlihat sibuk dirinya maka semakin dianggap produktif.
Ketika meluangkan waktu untuk beristirahat, artinya ia tidak melakukan apapun yang nampak produktif baik di mata dirinya maupun orang lain. Kondisi ini terjadi di berbagai negara di belahan dunia, contohnya di China di mana ada sistem waktu kerja 996, yaitu bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam, 6 hari per minggu.
Artinya dalam seminggu, seseorang bekerja hingga 72 jam. Begitu juga di Jepang, budaya karoushi yang artinya bekerja keras dengan jam frekuensi yang tinggi.Indonesia sendiri tidak ada istilah khusus, namun terdapat suatu jargon “kerja, kerja, kerja, tipes!” menjadi semacam sindiran bahwa para pekerja ini jika terus melakukan kerja keras hingga lupa waktu justru bisa mengakibatkan jatuh sakit.
Kondisi ini menjadi sebuah ironi karena di masa pandemi banyak orang yang kehilangan pekerjaan, namun di sisi lain mereka yang bekerja terlampau keras hingga kondisi kesehatannya terganggu. Tidak hanya kesehatan fisik, namun kondisi kesehatan mental bisa terpengaruh.
Studi dari Finnish Institute of Occupational Health dan London University menyebutkan bagi seseorang yang bekerja lebih dari 11 jam per hari, memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih tinggi mengalami gejala depresi dibandingkan yang bekerja dalam waktu 7-8 jam per hari.
Survei dari Mental Health Foundation UK menyebutkan, lebih dari setengah pekerja yang menjalani jam kerja panjang merasa depresi, cemas, dan merasa mudah marah.
Khususnya di masa pandemi saat banyak orang berlomba untuk tetap produktif meski Work From Home (WFH), hal ini membuat jam kerja yang lebih panjang sehingga seseorang lebih rentan terkena stress karena terpicunya hormon kortisol.
Akibat lain yang dimunculkan dari hustle culture ini adalah mengorbankan aktivitas untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Waktu berkualitas yang seharusnya dilalui dengan pasangan, keluarga, teman atau melakukan kegiatan sosial menjadi terganggu.
Begitu juga waktu untuk merasakan me-time untuk hobi dan kegiatan menyenangkan diri tidak bisa dijalani dengan sepenuhnya. Padahal hal-hal tersebut di atas adalah indikator yang bisa mempertahankan dan membuat seseorang bertahan agar tidak mengalami masalah kesehatan mental.
Keseimbangan antara karir dan kehidupan pribadi pun menjadi berat sebelah, sehingga bisa mengakibatkan lelah berkepanjangan yang melahirkan gejala burnout. Burnout bisa membuat kemampuan bekerja menurun, berpandangan negatif terhadap pekerjaannya dan memiliki masalah dengan rekan kerjanya.
Apabila kita merasa sudah masuk ke jebakan hustle culture dan sudah mengetahui bahaya terselubung di baliknya, bisa coba beberapa cara berikut:
Menyadari diri sendiri
Penting untuk seseorang bisa menilai diri sendiri sehingga ia menjadi sadar akan kehidupannya sehari-hari dan pilihan-pilihan yang dilakukan termasuk pilihan pekerjaan.
Dengan menyadari, artinya seseorang bisa memahami bahwa apa yang dilakukannya berdampak seberapa besar untuk hidupnya dan mulai mencari tahu bagaimana cara menanganinya.
Membuat jadwal dan batasan diri
Isu yang sering terjadi pada para hustlers salah satunya tidak memiliki jadwal dan batasan yang jelas dalam melakukan aktivitasnya.
Terkadang ia melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu penting dan mendesak demi menyenangkan orang lain, padahal tugas utamanya belum selesai, sehingga harus lembur untuk menyelesaikan tugas utama.
Atau justru banyaknya pekerjaan yang dikerjakan sehingga melakukan multitasking dan tidak membuat jadwal khusus untuk membagi waktu bagi pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Perlu lakukan analisis pribadi untuk memperhitungkan waktu yang dihabiskan selama sehari, seminggu, hingga sebulan sehingga terlihat akumulasi waktu dan bisa melacak jam kerja yang jumlahnya sudah berlebihan.
Dari sini seseorang bisa melakukan “kerja cerdas” dengan memanfaatkan waktu di mana ia paling fokus untuk bekerja sesuai dengan kebiasaan masing-masing.
Berkomunikasi dengan orang-orang terdekat
Orang-orang yang ada di sekitar seorang hustlers, mungkin memahami bahwa bekerja keras yang dilakukan itu untuk kebaikan keluarga.
Namun hal ini perlu untuk dikomunikasikan karena terkadang timbul adanya miskomunikasi yang menyebabkan hubungan menjadi renggang.
Dengan komunikasi, akan didapatkan kesepahaman antara kedua pihak sehingga meminimalisir terjadinya konflik berkepanjangan.
Melatih kemampuan istirahat
Istirahat adalah sebuah kemampuan yang bisa dilatih. Seseorang perlu menganggap serius hubungan antara pekerjaan yang mengakibatkan stres karena kurangnya kegiatan yang bisa menurunkan stres seperti istirahat dan melakukan refreshing, termasuk olahraga, hobi, aktivitas santai hingga berkumpul bersama teman. Istirahat memiliki banyak macam, salah satunya yaitu tidur.
Penting untuk seseorang melakukan kebutuhan dasar manusia satu ini karena bisa bermanfaat untuk meningkatkan kewaspadaan, menurunkan kelelahan, meningkatkan konsentrasi dan menjaga keseimbangan mental.
Suatu studi dari University of Pennsylvania menyebutkan bahwa tidur dapat meningkatkan regulasi emosi dan kontrol diri sehingga mencegah kelelahan mental yang dalam jangka panjang bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan. Apabila hal tersebut konsisten dilakukan maka bisa membuat seseorang menjadi lebih meningkat secara kreativitas.
Melakukan apresiasi diri
Ketika banyak tuntutan dan harus diselesaikan dalam waktu cepat memang terasa berat. Apalagi jika setelah selesai namun hasilnya tidak sesuai harapan.
Rasanya memang jengkel dan marah, tapi seseorang perlu melakukan tindakan apresiasi diri. Dengan apresiasi diri, seseorang bisa lebih menghargai proses yang telah dilalui dan tidak terlalu memaksakan diri agar selalu sempurna dalam melakukan pekerjaan.
Bagi mereka yang memiliki kecenderungan perfeksionis hal ini terasa berat, namun dengan adanya lingkungan yang suportif dan memiliki komitmen untuk sama-sama mau menjaga situasi yang kondusif dalam bekerja, masing-masing bisa belajar untuk memulai kebiasaan ini.

