Apakah penderita stroke boleh puasa?
Penderita stroke boleh puasa tergantung pada kemampuan pasien dan harus mendapat izin dari dokter. Meski begitu, pada pasien dengan kondisi stroke berat umumnya tidak dianjurkan berpuasa.
Hal ini karena orang yang terkena stroke biasanya memiliki keterbatasan fisik dan membutuhkan perawatan khusus.
Stroke terjadi karena adanya penurunan atau penyumbatan suplai darah ke otak. Ada berbagai jenis stroke dengan tingkat keparahan yang berbeda pula.
Berpuasa di bulan Ramadan yang mengharuskan Anda tidak makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa di bulan Ramadan ini punya konsep yang mirip dengan diet puasa atau intermittent fasting.
Penderita stroke boleh saja puasa selama mengikuti anjuran dari dokter. Namun, umumnya penderita stroke berat tidak dianjurkan berpuasa.Banyak penderita penyakit kronis yang bertanya-tanya, apakah dirinya boleh puasa atau tidak, salah satunya penyakit stroke. Wajar saja, sebab pola makan dan minum waktu berpuasa berbeda dengan hari-hari lain.
Sementara, mungkin ada saja obat yang harus diminum rutin untuk mengendalikan penyakitnya. Lantas, apakah ini artinya penderita stroke tidak boleh berpuasa?
Simak ulasan lengkap beserta tips aman puasa di bulan Ramadan bagi penderita stroke berikut ini.
Tips aman puasa bagi penderita stroke
Meski banyak penelitian yang membuktikan manfaat puasa bagi penderita stroke, risiko kekambuhan bisa saja terjadi jika puasa dilakukan tidak tepat.
American Academy of Neurology menyatakan bahwa puasa yang berkepanjangan justru dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke terutama pada seseorang yang memiliki riwayat pengentalan darah (hiperkoagulasi) dan wanita yang sedang mengonsumsi pil KB.
Sebagaimana Journal of the American Heart Association, kemungkinan kejadian stroke di bulan Ramadan terjadi akibat dehidrasi saat puasa, alias penurunan asupan cairan, peningkatan kekentalan darah, dan terjadinya trombosis.
Untuk mencegah kekambuhan dan perburukan kondisi, ada beberapa tips aman berpuasa bagi penderita stroke yang bisa Anda lakukan, antara lain:
1. Berkonsultasi ke dokter sebelum puasa
Sebelum memutuskan menjalankan puasa Ramadan, penderita stroke harus berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi kesehatannya.
Selain itu, waktu minum obat saat puasa juga perlu penyesuaian. Mengubah jadwal atau dosis obat yang Anda konsumsi membutuhkan rekomendasi dan saran dari dokter. Jangan menghentikan atau mengubah pengobatan tanpa konsultasi dokter karena bisa meningkatkan risiko efek samping ataupun obat tidak bekerja dengan baik.
2. Penuhi kebutuhan cairan
Anda perlu memenuhi kebutuhan cairan yang cukup selama puasa. Cobalah untuk mengatur waktu agar tetap bisa minum air 8 gelas sehari. Untuk aturan minum air putih selama puasa, Anda bisa mengikuti rumus 2-4-2, yakni 2 gelas saat berbuka, 4 gelas dari waktu makan besar hingga menjelang tidur, dan 2 gelas saat sahur.
Dehidrasi merupakan salah satu faktor risiko stroke yang mungkin terjadi selama puasa. Itu sebabnya, penting bagi penderita stroke yang ingin puasa untuk memenuhi kebutuhan cairannya.
3. Penuhi kebutuhan nutrisi
Makan makanan bergizi seimbang selama sahur dan berbuka sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi penderita stroke selama puasa. Selain membuat Anda kuat puasa seharian, makanan bergizi juga membantu tubuh tetap sehat.
- Batasi penggunaan garam dan gula
- Lebih banyak konsumsi sayuran dan buah
- Hindari makanan olahan atau cepat saji
- Hindari makanan manis, gorengan, dan lemak jenuh
4. Tetap menjalankan terapi
Beberapa penderita stroke biasanya diagendakan untuk melakukan terapi pengobatan, misalnya fisioterapi. Selama menjalankan puasa, Anda bisa tetap menjalankan terapi sesuai dengan anjuran dokter atau terapis.
5. Disiplin minum obat
Penderita stroke boleh puasa asalkan tetap disiplin minum obat. Beberapa obat rutin biasanya harus dikonsumsi penderita stroke selama pengobatan.
Minum obat saat puasa tetap dapat dilakukan. Untuk mengetahui aturan minum obat selama puasa, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Dokter mungkin saja meningkatkan dosis dan mengurangi frekuensi minum obat agar ibadah Anda tidak terganggu.
6. Tetap beraktivitas fisik
Bagi penderita stroke ringan atau pascastroke, olahraga dengan intensitas ringan bisa menjadi cara mencegah sekaligus meringankan gejala stroke.
Tetap beraktivitas fisik bisa membuat peredaran darah lebih stabil dan mengelola berat badan sehingga menurunkan risiko stroke.
Konsultasikan dengan dokter terkait olahraga untuk stroke yang tepat sesuai dengan kondisi Anda.
Dikutip dari Harvard Medical School, olahraga paling tidak 30 menit dalam sehari beserta gaya hidup dan pola hidup sehat dianjurkan untuk menurunkan faktor risiko stroke dan membantu kesehatan tubuh optimal.
Olahraga saat puasa dapat dilakukan setidaknya 30 menit sebelum jam berbuka.
7. Hindari rokok dan alkohol
Rokok dan alkohol masih menjadi faktor risiko terjadinya berbagai penyakit kronis, termasuk stroke dan gangguan kardiovaskuler.
Menghindari kebiasaan merokok dan minum alkohol bisa menjadi langkat tepat mencegah sekaligus mengatasi kejadian stroke dan memperparah kondisi.

